LittleIndia merupakan salah satu kawasan di Singapura yang kaya akan budaya dan sejarah. Destinasi ini juga ramah muslim lho. Berlokasi di sepanjang Serangoon Road dan Race Course Road, tempat ini sudah menjadi tempat tinggal komunitas India sejak lama. Stasiun MRT, hub masyarakat dan wisatawan di distrik ini pun bernama Stasiun Little India. Segelintirsahajalah, most of them menyokong sahaja kalau belajar di India. Apa yang nak aku cerita tentang India? Pertama: Makanan. Ya, makanan! Semua orang bila sebut tentang makanan, terliur dah. Sejujurnya, ya, India kaya dengan makanan. Korang nak tau tak, berat sebelum ke India, 50 kg, balik dari India, 60 kg. Ha, nampak tak di situ? PengalamanTinggal di Mansion Jepang. 5:30:00 PM. Selamat siang.. Kemaren ada yang nanya gimana lokasi tempat tinggal saya sewaktu di Jepang. Jadi saya mau curhat sedikit tentang mansion yang saya huni di Sakae. Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi. Apalagi bagi yang tinggal di Jepang, mencari lokasi tempat Marikita belajar dari pengalaman India. Sistem kesehatan nasionalnya telah dinyatakan gagal, sehingga India terpaksa meminta bantuan internasional. Lebih baik kita "mencegah kemadlaratan, dari pada mendahulukan kemaslahatan". Catatan: Pemerintah secara resmi mengeluarkan larangan mudik Lebaran terhitung mulai tanggal 24 April hingga 17 Mei 2021. Pertamakali menjejakkan kaki di Singapure, 31 Agustus 2013 Waktu itu saya cari hotel paling murah dapatnya di daerah Geylang, sekitar Rp. 600.000 permalam. Bagi dua dengan Maria, setelah hitung hitungan, kami putuskan ambil kredit bayar 3 kali cicilan. Entah kenapa saya tak kepikiran untuk ambil Hostel. Maklum pemula, masih kikuk. PengalamanHidup di Singapore | Image vs RealityDi video ini aku share pengalaman ku selama 1 tahun tinggal di Singapore, Apa saja yang aku alami, dan penda JessicaLamarie Pires Berbagi Pengalaman Tinggal Di India - Tidak butuh lama buat Jessica Lamarie beradaptasi dengan kehidupan di India. Dia rela tinggal di negeri kisah Mahabharata ini demi menemani sang suami, Robert Pires yang dikontrak klub lokal, FC Goa. Dilansir Caughtoffside, Jessica memamerkan dirinya dengan mengunggah foto sedang NEWDELHI, 3 Ogos (Bernama) -- Peluang berkhidmat di New Delhi adalah satu pengalaman yang amat berharga memandangkan kepelbagaian hubungan Malaysia-India dengan skop pertumbuhan luas, kata ketua misi Malaysia ke India yang bakal menamatkan tugasnya di negara itu. Pesuruhjaya Tinggi Malaysia Datuk Hidayat Abdul Hamid berkata sepanjang lebih lima Berandakisah nyata Pengalaman saya tinggal di Saudi Arabia, inilah faktanya. Pengalaman saya tinggal di Saudi Arabia, inilah faktanya. By Saya ada contoh, teman saya orang India, dia pernah melakukan pelanggaran lalu lintas dan kena tilang, tapi tilangnya dia tidak bayar2. Pada saat dia ingin cuti pulang ke negaranya, di PengalamanTinggal di Penang Nepal, Filiphina, dan penduduk lokal china melayu, india tamil, dan melayu asli. Karena Penang mempunyai penduduk china terbanyak di Malaysia, pabrik pun isinya orang-orang China. Saya yang pernah tinggal di daerah nusa dua dan sanur lalu membandingkannya dengan tinggal di penang, sungguh sangat berbeda 8no0. sdr Berawal dari menjadi penonton setia film Bollywood di masa kecil dan tumbuh besar mengkonsumsi stereotip soal India lewat media dan cerita teman, Savira malah berkesempatan magang selama 3 bulan di India. Artikel ini akan menceritakan tentang keseharian Savira selama magang dan caranya beradaptasi dengan kehidupan masyarakat lokal. “Kamu ngga takut diapa-apain kalo di sana?” “Ya ampun, bukannya di sana tuh jorok dan bau ya.” “Eh sumpah ati-ati ya entar, terutama sama laki-laki!” “Lo jangan kebanyakan makan kari ya, nanti keringet lo ikutan bau kari lho.” Kurang lebih itu reaksi orang-orang terdekatku ketika aku cerita aku bakal berangkat ke India buat magang. Rata-rata reaksi mereka pasti kaget dan khawatir. Aku bisa paham sih dengan reaksi mereka. India ngga jarang digambarkan sebagai negara yang ruwet, jorok, dan terkesan berbahaya untuk perempuan. Meski begitu, entah kenapa aku malah jadi penasaran banget untuk ngebuktiin sendiri, emang separah itu ya? Aku berangkat ke India untuk magang di sebuah perusahaan IT pada Agustus 2018 lewat program Global Entrepreneur dari AIESEC. Aku udah beberapa kali ke luar negeri sebelum ke India. Meski begitu, pengalaman satu ini berbeda dan berkesan banget, karena aku tinggal dalam jangka waktu yang lama yaitu selama hampir tiga bulan, bekerja secara profesional, dan ngerasain banget rutinitas sehari-hari layaknya orang lokal. Melalui tulisan ini aku pengen cerita gimana aku menjalani keseharianku. Rutinitas Hari kerja – Bangun pagi Aku bangun siang banget selama di India karena di kota tempat aku kerja kebanyakan jam masuk kantor adalah jam 10 pagi sampai jam 7 malam. Jam kantor inilah yang bikin keseharianku di India jadi beda banget dengan di Indonesia. Aku bangun lebih siang, pulang ngantor malem meski ngga lembur, dan tidur lebih malem juga. – Sarapan Roti Chapati, Yoghurt dan Cocolan Kari — Sarapan ala India! Aku tinggal di PG paying guest di India. Ini konsepnya mirip kos-kosan gitu dan biasanya emang yang tinggal mahasiswa atau anak muda. Nah di PG disediakan sarapan jadi ngga perlu ribet masak dan nyiapin sarapan setiap pagi. Biasanya terdiri dari pancake khas India seperti naan, paratha, dan chapati jenisnya banyak banget dan semuanya beda; homemade yoghurt sebagai cocolan; saos tomat di India entah kenapa malah susah banget cari saos cabe; dan minumnya setiap pagi pasti chai yaitu teh susu yang dicampur rempah-rempah. Kadang kalo bosen atau aku lagi nggak suka menunya, aku beli buah buat sarapan karena tiap jalan kaki ke halte lewat pasar. Buah di India jauh lebih murah lho dibandingkan di Indonesia. Contohnya, satu buah pisang harganya sekitar 500 rupiah! – berangkat ngantor Sosok transportasi umum di India Jarak tempat aku tinggal ke kantor kurang lebih 5 kilometer. Setiap pagi aku jalan kaki sekitar satu kilo dari PG ke halte terdekat, kemudian lanjut naik bus. Rutinitas berangkat ngantor ini buatku seru banget, karena di Indonesia aku malah jarang naik transportasi umum akibat lebih suka naik ojek online. Naik bus di India juga ngga sulit dan serem kok, kurang lebih sama kayak naik Trans Jakarta karena ada halte dan jalurnya sendiri, rutenya bisa dicek di Google Maps, dan bahkan bentuk busnya pun mirip. Aku sekali jalan ngantor cuma perlu bayar 4 rupee alias 800 rupiah doang. Selain naik bus, kadang-kadang kalo keburu-buru atau hujan, aku make aplikasi namanya Ola. Ola kurang lebih adalah GOJEK versi India untuk pesen transportasi online. Kalo pake GOJEK bisa pesen ojek online, kalo pake Ola kita bisa pesen bajaj. – Ngantor Aku magang sebagai business development di sebuah IT startup di kota Surat, Gujarat. Tugasku adalah mengelola kerjasama outsourcing antara perusahaan tempat aku kerja dengan perusahaan IT di luar negeri. Aku harus memastikan perusahaanku bisa dapet klien baru dan menjalin hubungan yang baik dengan klien yang udah ada. Kerja sebagai orang asing di antara karyawan lokal merupakan tantangan tersendiri. Rasanya setiap hari ada aja ada masalah sekaligus pelajaran baru, sesimpel kendala komunikasi karena pusing dengerin aksen satu sama lain, pola pikir yang ga cocok, dan budaya kerja yang beda banget. Awalnya aku bener-bener frustasi karena rasanya susah aja untuk mengerti dan dimengerti sama temen kantor. Tetapi seiring berjalannya waktu aku belajar untuk lebih pede mengutarakan pendapat, proaktif misal aku merasa ada yang kurang jelas, dan menyikapi segala masalah kantor dengan kepala dingin. Sebelum magang di India, aku udah magang dua kali di Indonesia dan aku bisa bilang pengalaman magang di luar negeri adalah naik level untuk pengalaman profesionalku karena aku menghadapi tantangan yang aku ga pernah hadapin sebelumnya. – Sampai di PG dan makan malam Biasanya aku sampe di PG jam 8 malam dan baru makan malam sekitar jam 9 malam. Malam hari sepulang ngantor adalah waktu buatku bersosialisasi sama temen-temenku yang tinggal di PG. Semua temenku adalah cewek India dan itu bikin hubungan kita awkward banget pas awal aku tinggal di PG. Ini jadi pengalaman pertama mereka tinggal seatap sama orang asing dan aku awalnya takut dicuekin karena beda sendiri. Syukurnya hubungan kami kian hari kian membaik. Salah satu caraku untuk mempererat hubungan dengan teman-teman baruku adalah dengan cari kesamaan diantara kami seperti persamaan bahasa antara bahasa Indonesia dan Hindi sampe saling sharing soal rutinitas skincare ala negara masing-masing. Rutinitas Akhir pekan dan hari libur Akhir pekan dan tanggal merah selalu jadi waktu yang paling aku tunggu-tunggu karena ini adalah kesempatan buat bisa jalan-jalan dan refreshing dari pusingnya urusan kantor. Ini adalah hal-hal yang aku lakuin kalo lagi libur. Cuci baju dan setrika Aku hampir ga pernah cuci baju sendiri di Indonesia karena selalu pake jasa laundry. Awalnya aku pikir bisa melakukan hal yang sama di India tapi ternyata jasa laundry di India carinya ga segampang di Indonesia dan harganya mahal banget. Harga laundry per potong sebesar 3000 rupiah. Akhirnya aku pun cuci baju sendiri pake mesin cuci di PG. Walaupun jasa laundry susah carinya di India, tapi ada jasa lain nih yang cukup populer yaitu jasa setrika baju. Harganya pun lebih bersahabat, kurang lebih seribu rupiah per potong. Biasanya kalo males setrika terutama baju buat ngantor, aku bawa deh ke tukang setrika ini. Belanja ke supermarket Salah satu supermarket di daerah pertokoan India Aku selalu antusias banget kalo masuk supermarket di luar negeri. Aku selalu ngerasa main ke supermarket bisa ngasi gambaran tentang cara hidup orang lokal di suatu negara. Hampir setiap akhir pekan selama di India aku pasti ke supermarket buat belanja sendiri atau nemenin temen. Salah satu hal menarik yang aku sadarin dari keluar masuk supermarket di India, barang-barang hygiene dan personal care kayak tisu, kapas, dan pembalut itu mahal banget. Contoh perbandingannya, aku beli pantiliner di Indonesia isi 20 pcs seharga 5 ribuan, dan kalo di India harganya 18 ribu! Kulineran Makanan India sangat beragam dan kalo dikulik nggak ada habisnya. Aku pribadi cocok dengan makanan India karena rasanya kuat dan setiap makanan unik banget. Sapi adalah binatang yang disucikan di India dan dagingnya tidak boleh dikonsumsi, jadi selama di India aku puasa makan daging sapi. Nyari ayam dan daging lain pun juga ngga semudah di Indonesia karena lebih banyak makanan yang ditujukan untuk vegetarian. Awalnya aku udah uring-uringan karena aku ngga terlalu suka sayur, tapi ternyata orang India kreatif banget dalam mengolah sayur, jadi aku ngga selalu makan sayur dalam bentuk mentahnya tapi sering juga makan daging vegetarian yang rasanya mirip sama daging beneran. Jalan-jalan ke luar kota Selama di India, aku cuma 3 kali jalan-jalan ke luar kota buat weekend getaway. Alasannya karena budget terbatas dan capek juga sih haha. Pengalaman jalan-jalan ke luar kota bikin aku juga mencicipi berbagai jenis moda transportasi di India dari pesawat domestik, kereta, sampai bus. Dari 3 kali jalan-jalan tersebut, dua diantaranya aku pulang pergi sendirian dan syukurnya selamat tanpa mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Beberapa tips yang aku sarankan untuk berpergian sendiri selama di India adalah rajin riset di internet dengan baca-baca pengalaman traveler lain, selalu konsultasikan rencana perjalananmu ke temen yang orang lokal, jangan keliatan gugup, dan misal bener-bener bingung banget coba cari orang yang kelihatannya bisa bahasa Inggris dan terpercaya biasanya aku deketin cewek yang kelihatan seumuran buat nanya-nanya, dan meskipun harus selalu waspada jangan terlalu overthinking ya, don’t forget to have fun! Apa yang aku bagikan disini tentunya cuma potongan kecil dari seluruh pengalaman dan pembelajaran yang aku dapet selama bekerja di India. Salah satu hal yang aku pelajarin adalah untuk gak menutup diri dari pengalaman baru cuma karena mentah-mentah percaya dengan stereotip yang beredar atau cerita orang. Kalo dulu aku ambil pusing kata-kata orang ketika aku cerita rencanaku ke India, mungkin aku ngga jadi berangkat karena udah jiper duluan. Selain itu, tinggal dan kerja di luar negeri juga menjalani hidup sehari-hari layaknya orang lokal menurutku adalah pengalaman yang sangat berharga. Aku dapet professional development yang menambah nilai plus buat CV dan personal development untuk belajar lebih dewasa dalam menyikapi banyak hal baru, dari culture shock yang kocak sampe pengalaman buruk yang bikin bete. Seorang temen lokalku bilang, if you can survive traveling and living in India, you basically will survive anywhere else in the world’. I am proudly say I survived in India and looking forward for more adventures in new places! Savira has big faith and passion in youth’s potential. She is now working in Asian Development Bank to support Indonesian youth’s participation in improving the nation’s financial inclusion. Besides being a communication students, Savira took various opportunities during her university years including being the activist of world’s biggest youth-led organization, AIESEC, for four years and awardee of XL Future Leaders. In her spare time, Savira enjoys visiting museums, joining walking tours, and hunting for culinary’s hidden gem. 1. Não pense que você está pronto para Índia Por mais que você leia e pesquise sobre a Índia, nada te prepara para o soco no estômago que é pisar no país pela primeira vez. Sempre que penso sobre minha viagem, não consigo pensar em outros adjetivos que não sejam “intenso”, “esmagador” e “único”. A Índia não se parece com nada que vi antes e foi uma das experiências de vida mais fortes que tive. Se Vinícius de Moraes achava que o Brasil não é para iniciantes, é porque ele não tinha ideia do que se passava na Índia. 2. É um país relativamente seguro, se você não for mulher Apesar da pobreza, não senti medo de assaltos na Índia. Andava tranquilamente com o celular na mão e câmera pendurada no pescoço. Algo que nunca faço quando estou, por exemplo, no Rio de Janeiro. No entanto, se você for mulher, especialmente se viajando sozinha, existe uma sensação de insegurança bem grande. A cultura do país é bem machista, então é melhor tomar alguns cuidados com a escolha da roupa ou mesmo evitar sair à noite. Demos algumas dicas para mulheres viajando sozinhas neste post aqui. 3. Falando em machismo… A ideia de igualdade entre os sexos é algo bem distante na Índia. Se você estiver viajando com um homem vai perceber que as pessoas vão se dirigir apenas a eles, mesmo que você tenha feito uma pergunta. A minha percepção é que os homens de lá não gostam de ser “enfrentados” por mulheres. Em dois hotéis, os gerentes levantaram o tom de voz para mim. O primeiro, por conta de uma confusão com o transfer que não estava me esperando no aeroporto, e o segundo porque ele queria que mudasse meu roteiro de viagem para contratar um transfer do hotel. Quando falaram com um amigo homem sobre os mesmos assuntos, o tom da conversa era bem diferente. 4. Não dá para ignorar a pobreza As ruas da Índia costumam ser bem sujas A Índia fascina pelo exotismo, história e explosão de cores. Mas esta não é uma viagem qualquer e há algo por lá que é tão grandioso quanto tudo isso a pobreza. O país possui milhões de habitantes e, segundo o Banco Mundial, 30% dessas pessoas vivem atualmente abaixo da linha da miséria e sobrevivem com menos de $ por dia. Apenas 40% da população tem acesso à saneamento básico. Na Índia a pobreza é onipresente. Ela cerca inclusive cenários majestosos como o Taj Mahal e os templos, o que só torna o contraste ainda mais impactante. É corriqueiro ver crianças procurando comida no lixo, pessoas dormindo com bichos no meio da estrada e cobertos de poeira. Se você decidiu ir à Índia, não espere conseguir viajar em um bolha e apenas ver o lado bom. Definitivamente, esta é muito mais do que uma viagem de férias, é uma experiência de vida. 5. A limpeza é questionável Eu adoraria dizer que as pessoas exageram quando falam da sujeira na Índia, mas ela é bem suja. Há lixo por praticamente todos os lados e as ruas fedem bastante. A falta de saneamento e a pobreza são a principal causa e também refletem em como os indianos lidam com a limpeza. Digamos que eles possuem um conceito bem elástico de higiene. Eu andava sempre com um álcool em gel na bolsa e evitava comida de rua. Também era muito cismada com a água sempre comprava uma garrafinha e checava se ela estava realmente fechada. Não pedia sucos ou gelo para refrigerante. 6. Cheque a validade dos alimentos Este é um hábito que eu particularmente não tenho, a não ser que esteja no supermercado. Mas a Índia não é exatamente rigorosa com a questão da validade. Na estrada, comprei um pacote de batata frita que havia vencido em outubro de 2016, cinco meses antes da viagem. Depois disso notei vários produtos fora do prazo nas prateleiras, principalmente em restaurantes de estrada. 7. Não jogue comida fora As porções de comida nos restaurantes indianos são generosas e um prato geralmente serve duas pessoas tranquilamente. Como muitas vezes sobrava comida, pedia para o garçom embrulhar e dava para alguém na rua. Falando em doações, levei algumas roupas para doar, mas apenas os sapatos foram bem recebidos, pois minhas peças eram muito ocidentais. Se eu tiver a chance de voltar à Índia, certamente levaria calçados que não uso mais. 8. Existe praticamente um deus por pessoa Imagem de Ganesh, um dos principais deuses hindus, em Varanasi Ok, o título do tópico é um pouco sensacionalista. Oficialmente a Índia possui “apenas” 330 milhões de deuses. Mas há quem diga que, se colocarem os deuses sem registro na conta, o número chega a um bilhão. Sim, a Índia possui um “IBGE” especializado em deuses. Fica no templo de Bhuvaneshwari, onde os monges mapeiam a origem, parentesco e a especialidade de cada um deles. 9. O trânsito é insano, mas eles se entendem O trânsito da Índia é conhecido com um dos piores do mundo A minha primeira impressão da Índia foi que ele é um país barulhento. Peguei um táxi às 6h da matina e o som das buzinas já era incessantes nas ruas. Eles dirigem com a mão colada ali, só pode. Mas, surpreendente, não há xingamentos ou brigas. Nas ruas da Índia é comum que tudo esteja junto e misturado carros, motos, tuk-tuks, vacas, pessoas, dividem o mesmo espaço sem maiores problemas. As estradas, ao contrário do que esperava, são boas. Todos os carros possuem arranhões e eles são os reis de “tirar um fino”, praticamente todos os taxistas e tuk-tuks que peguei quase bateram. Quase. Definitivamente não é um lugar que aconselho alugar um carro. Ah, mas fiz parte da viagem com um motorista particular que é excelente e dirigia super bem. 🙂 10. Negocie sempre Na Índia quase tudo pode ser barganhado, nunca aceite o preço inicial. Negocie preço de táxi, tuk-tuk, guias, souvenir… Ao parar para ouvir a proposta de um motorista, por exemplo, você será cercado por vários outros. Se você simplesmente sair andando, o preço de qualquer coisa começa a cair. Negociar é válido, mas tente ser justo na sua proposta e também sempre dê gorjeta ao motorista e ao guia. 11. Desconfie das informações Malandragem e gente de má fé existem em qualquer lugar do mundo. Então sempre que você quiser informação na Índia, busque mais de uma fonte. É comum, por exemplo, motoristas dizerem que a atração x está fechada porque querem te levar em um local mais longe – e cobrar um pouco mais. Eles são muito insistentes em fazer um “combo” com atrações que você não pediu. Em um hotel o gerente falou que a estrada para a estação estava bloqueada, só para comprarmos uma passagem com ele pelo dobro do preço. Em outro hotel, o preço da troca do dólar variava conforme a vontade do recepcionista. 12. Leia atentamente as avaliações dos hotéis antes da reserva Isso é algo que deve ser feito sempre. Mas ao olhar hotéis pela Índia, fique atento às reclamações sobre limpeza, segurança do estabelecimento e vizinhança ou se há relatos de hóspedes que ficaram doentes por lá. Se você optar por hostels, evite quartos mistos. 13. Cuidado com a comida Na Índia a lógica é simples se é comida, é apimentada. O que eu adoro e gostei bastante dos pratos. Mas se você tiver algum problema com alimentos picantes ou curry, deve deixar isso bem claro ao garçom. Nas cidades turísticas é fácil encontrar culinária internacional ou você também pode recorrer às redes de fast food, como McDonald’s e KFC. Comida indiana é um deleite para quem gosta de pratos condimentados e para vegetarianos. Na dúvida de qual restaurante escolher, opte pelos que têm maior fluxo de pessoas. 14. Internet tem, mas tá faltando Eu tive mais dificuldade com internet na Índia do que em Cuba. Poucos restaurantes disponibilizam wifi e o sinal do hotel era bem ruim. Então o país exige um pouco de desprendimento nesse aspecto. Um solução é comprar um SIM Card e usar o 3G, que funciona bem por lá. Quando fui, em março de 2017, recebi ainda na imigração um voucher para um chip grátis. 15. A Índia é muito mais do que o Taj Mahal Jaipur, vista de um dos fortes Ele é uma das Sete Maravilhas do mundo moderno e é uma das coisas mais bonitas que vi na vida. Mas já que você irá enfrentar uma viagem tão longa, aproveite para conhecer mais do país. Se você tiver apenas uma semana, foque no triângulo dourado Delhi, Agra e Jaipur. Com dez dias, inclua no seu roteiro Varanasi, uma das cidades mais sagradas do mundo, foi o lugar mais incrível que vi por lá. Com mais tempo, é possível incluir cidades como a gigante Mumbai, a praia de Goa ou a natureza de Ooty. Bagaimana rasanya belajar di negara yang terkenal dengan sinema Bollywood dan kemajuan di bidang teknologi informasinya? Kali ini Indonesia Mengglobal berbincang dengan Popi Miyondri yang pernah belajar di New Delhi, India. 1. Hai Popi, boleh cerita sedikit mengenai Popi? Namaste, teman-teman semua. Nama saya Popi Miyondri, saat ini baru saja menyelesaikan pendidikan master jurusan French Language di Jawaharlal Nehru University JNU – New Delhi. Saya adalah orang Jambi namun ayah saya berasal dari Batu Sangkar Sumatera Barat. Di jenjang S1, saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Prancis di Universitas Pendidikan Indonesia. Aktif berpengalaman organisasi saat masih S1 dulu dan hingga kini masih tetap terbawa ketika berada di New Delhi ini. Saya masih aktif mengikuti Perhimpunan Pelajar Indonesia di India, pada tahun 2014-2015 saya berkontribusi sebagai sekretaris PPI India. Selain itu pada tahun 2015-2016 saya memegang peran sebagai ketua PPI Komisariat Delhi. 2. Mengapa Popi memilih melanjutkan studi di India? Dulu tidak pernah terbayangkan bisa S2 di India. Berawal ketika salah satu teman Pengajar Muda sebutan fasilitator pendidikan di Indonesia Mengajar yang juga lulusan JNU memberikan info mengenai JNU dan kemudian saya tertarik. Yang paling banyak ditanyakan pada saya ketika orang tahu bahwa saya melanjutkan kuliah di India adalah “Mengapa India? Mengapa kuliah Bahasa Perancis justru di India?” Waktu itu saya menjawab, “Why not?” Bagi saya, belajar di universitas mana pun ketika universitas tersebut memiliki kredibilitas dan kualitas yang bagus adalah pilihan yang baik. Ini bukan tentang gengsi, karena kebanyakan orang barangkali berpendapat bahwa kuliah di negara-negara maju seperti kebanyakan negara di Eropa atau Amerika lebih terkesan keren. Menurut saya, jika kita memilih universitas sembarangan dan belajar asal-asalan, itu sama saja dengan menyia-nyiakan kualitas yang ada pada diri kita. JNU memiliki kualitas yang bagus di India dan setelah berada di sini, saya bisa merasakan kualitasnya melalui dosen-dosen yang mengajar di jurusan saya. Untuk jurusan Bahasa Perancis sendiri, saya mengambil jurusan ini agar linier dengan jurusan saya sewaktu S1. Hal ini berhubungan dengan cita-cita saya yang ingin menjadi dosen. 3. Bisakah Popi bercerita mengenai kehidupan/budaya kuliah di sana? Terkait dengan kehidupan di universitas saya, saya lebih merasakan suasana internasional di sini dibanding sewaktu saya kuliah S1 di Indonesia. JNU dapat diakses oleh mahasiswa-mahasiswa internasional dan JNU sendiri banyak bekerja sama dengan berbagai negara yang berhubungan dengan pendidikan. Kuliah di India sendiri memang harus sabar terkait sistem administrasi, terutama terkait kendala bahasa. Tidak semua pegawai di kampus dapat berbahasa Inggris, sehingga saya terkadang membawa teman India untuk menerjemahkan apa yang saya inginkan dalam bahasa Hindi. Malam budaya. Harga buku kuliah terbitan internasional juga sangat terjangkau, berbeda dengan di Indonesia. Selain itu, kita dapat mengakses jurnal internasional yang berbayar secara gratis di perpustakaan JNU. Walaupun mayoritas mahasiswa di kampus saya adalah mahasiswa India, namun tak sedikit pula mahasiswa asing dari berbagai negara yang berkuliah di sana. Ini berpengaruh pada seringnya diselenggarakan pesta seperti budaya kebanyakan negara-negara maju, misalnya pesta asrama, pesta perpisahan, atau pesta-pesta informal lain. Meski begitu, sisi khas India tetap terasa, dapat dilihat dari pakaian tradisional yang dipakai oleh masyarakat dan mahasiswa di sana serta perayaan berbagai macam festival keagamaan Hindu. 4. Apa saja kegiatan Popi selain kuliah? Selain kuliah, karena saya aktif di PPI India, kami melakukan berbagai kegiatan untuk mempererat tali persaudaraan dengan sesama teman PPI, teman teman di Indonesia, dan para pejabat/orang Indonesia yang berkunjung ke India. Kami juga memiliki program sosial, salah satunya adalah kegiatan PPI Delhi Winter Care. Kami membantu warga Delhi yang kurang mampu dan tunawisma dalam menghadapi musim dingin dengan membagikan selimut, jaket, beras, gandum, dan sejumlah materi kepada keluarga yang tidak mampu. Kegiatan PPI New Delhi. Selain di PPI, saya juga terlibat aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh International Student Association ISA di kampus. 5. Hal-hal unik apa yang Popi temui selama kuliah di India? Ada beberapa hal unik yang saya temui dan rasakan selama kuliah di India, misalnya biaya kuliah yang murah. Biaya kuliah di universitas saya tergolong sangat terjangkau untuk masyarakat India. Menurut orang India, tes masuk ke JNU sangat sulit, sehingga mahasiswa yang lulus di JNU sangat dikagumi. Biaya yang ditawarkan oleh JNU hanya Rs. 250,- per semester atau sekitar Rp. Untuk tinggal di asrama , penghuni asrama hanya cukup membayar sekitar Rp. per semester. JNU hanya menyediakan jenjang S2 dan S3 untuk semua jurusan, sedangkan S1 hanya ditawarkan untuk jurusan bahasa. Hal unik lainnya adalah bahasa. Kita umumnya berasumsi bahwa bahasa Hindi merupakan bahasa utama yang dipakai oleh masyarakat India. Namun India merupakan salah satu negara selain Kanada yang negaranya menerapkan multi-bahasa. Banyak berbagai bahasa yang dipakai di sana dan bahasa Inggris merupakan bahasa penghubung juga karena dulunya India pernah diduduki oleh Inggris. Saya juga tertarik dengan masakan India yang terkenal dengan bumbunya yanbg khas. Ketika kita mencicipi makanan India seperti roti, kari, dan manisan, kita biasanya langsung tahu bahwa makanan itu adalah makanan India. Bumbu khas India yang banyak digunakan dalam berbagai sajian dikenal dengan nama masala. 6. Apakah ada tantangan yang Popi hadapi di sana dan bagaimana cara Popi mnghadapinya? Dalam pergaulan tentu kita harus pandai dalam memilih teman, karena pergaulan bebas bisa kita rasakan di sana. Oleh karena itu, pergaulan merupakan tantangan yang harus saya hadapi dan kelola secara matang. Bersama teman-teman kuliah. keamanan Bukan hal baru lagi jika India dikenal senagai negara dengan tingkat keamanan untuk wanita yang mengkhawatirkan. Bagi saya sebagai seorang wanita, menjaga diri merupakan tantangan terbesar. Meski begitu, saya merasa senang karena JNU peduli dengan keamanan mahasiswanya dengan menyediakan petugas jaga 24 jam di berbagai titik. Tentunya saya juga selalu waspada ketika keluar dari kompleks kampus. tentang India dan Indonesia Walau pun kuliah di jurusan Bahasa Perancis, contoh-contoh dari pembelajaran yang banyak digunakan oleh dosen di sana berasal dari kehidupan sehari-hari di India. Sebagai representasi dari Indonesia, saya terkadang ditanya mengenai negara asal sehingga pengetahuan tentang kedua negara juga harus saya ketahui. 7. Apakah Popi memiliki pesan atau tips untuk teman-teman IM yang ingin belajar di India? Saya yakin bahwa teman-teman IM sudah tentu paham bagaimana harus bersikap ketika keluar dari comfort zone. Sebagai representasi Indonesia, kita sebaiknya bersikap sebagai orang Indonesia yang memiliki budaya Timur dan juga memiliki pengetahuan luas akan negaranya. Kita juga harus ingat akan tujuan kita belajar. Mengelola ekspektasi dalam hal perbedaan budaya juga dapat membantu kita dalam menerima budaya di negara tujuan, tentunya kita pilih mana yang baik. Selain itu, pencarian beasiswa juga diperlukan untuk mengurangi beban biaya selama kuliah di negeri orang. Banyak beasiswa yang bisa diambil, misalnya Beasiswa Unggulan dari Kemdikbud bagi teman-teman yang sudah kuliah terlebih dahulu namun dengan biaya sendiri. Beasiswa tersebut sangat membantu saya secara finansial ketika kuliah di India. Featured image diambil dari