Adalebih banyak orang dewasa yang bisa menjadi orang dekat untuk anak-anak saya. Dan itu juga berlaku untuk para orang dewasa, berbeda dengan keadaan dalam keluarga inti. Bagi kami, proyek hunian bersama membawa lebih banyak kebebasan, kami dapat berbagi pekerjaan mengurus orang lain dengan lebih baik dan tidak perlu lagi membayar pengasuh anak.
Darisegi struktur, novel ini "tidak sengaja" tercipta karena ia gagal memenuhi deadline yang ditentukan oleh GagasMedia untuk proyek Indonesiana. "Pada awalnya Mbak Iwied, sapaan akrab Widyawati Oktavia, menawarkan saya untuk ikut serta dalam proyek Indonesiana, di mana saya akan menciptakan kisah yang berlatarkan Kota Pontianak yang
1)(2)KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 2016 BAHASA INDONESIA KELAS XI SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA T U N A N E T R A B U K U S I S W A (3)BUKU SISWA BAHASA INDONESIA S M A L B / T U N
Noveldi kaki bukit cibalak merupakan buku fiksi karya ahmad tohari yang menceritakan seorang pemuda 24 tahun yang tidak menyukai ketidakadilan di desa kelahirannya. Penokohan dalam novel ini berbeda dengan novel ahmad tohari yang lain. Contohnya seperti orang-orang proyek menceritakan tentang seorang aktivis di dalam pekerkerjaanya
Dilihatdari jenis penelitian, skripsi berjudul amanat kejujuran dalam novel orang-orang proyek karya Ahmad Tohari (sebuah kajian sosiologi karya sastra) ini adalah menggunakan jenis pendekatan penelitian kualitatif. Pendekatan tersebut menitik beratka pada fenomena yang dapat diamati dalam novel Orang-orang proyek Karya Ahmad Tohari.
PermainanOrang Kaya. Sebelum menjelajahi kegiatan orang kaya, perlu kita pelajari terlebih dulu definisi dari kaya. Secara kasat mata, orang kaya adalah orang yang memiliki banyak uang. Namun, bagi beberapa ahli, mereka mendefiniskan orang kaya sebagai sesuatu yang sedikit berbeda. Organisatoris baca: Apa Arti Kaya.
Artikelmenjelaskan struktur novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari, pandangan dunia kelas sosial Ahmad Tohari, dan struktur sosial masyarakat yang melatarbelakangi lahirnya novel tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif analisis dan dialektis. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann
OscarMiles. February 18, 2022. Perusahaan Konstruksi Terbaik dan Proyek Hebat Mereka I - Industri konstruksi di Amerika Serikat telah menciptakan sekitar $1 triliun dalam struktur dan infrastruktur setiap tahun. Pengeluaran itu pun menambah sekitar $3,4 miliar ke Produk Domestik Bruto dan memasukkan banyak uang ke dalam perekonomian.
Faktoryang mempengaruhi Struktur Organisasi. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi struktur organisasi, yaitu faktor strategi, skala perusahaan. Teknologi, serta lingkungan. Strategi Organisasi. Masalah utama yang dihadapi oleh organisasi agar tujuan yang telah ditettapkan dapat tercapai adalah bagaimana organisasi tersebut sebaiknya
KeseimbanganMatematika dalam Alquran. Selasa 18 Aug 2009 19:19 WIB. Red: 0. Penyebutan angka atau bilangan dalam Alquran, tujuannya agar menjadi ujian bagi orang kafir dan bertambahnya keimanan bagi orang yang beriman. ''Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
o4EK6q. Ditulis olehDewi Nurhasanah Pengamat dan Penikmat Sastra Abstraksi Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari, Pandangan dunia kelas sosial Ahmad Tohari dan struktur sosial masyarakat yang melatarbelakangi lahirnya novel Orang-orang Proyek. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis dan dialektis. Analisis dalam peneltian ini dilakukan dengan menggunakan teori strukturalisme-genetik Lucien Goldmann, yaitu melihat makna novel dengan cara menghubungkan struktur karya sastra dengan fakta kemanusiaan struktur sosial yang melatar belakangi lahirnya sebuah karya sastra novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Dari analisis tersebut diperoleh beberapa hasil penelitian yaitu1 Struktur dalam novel Orang-orang Proyek mendeskripsikan adanya beberapa relasi oposisi yaituoposisi kultural;oposisi alamiah;oposisi sosial dan oposisi manusia. 2 Struktur karya sastra di atas mengekspresikan pandangan dunia yang idealis-humanis dan Struktur sosial masyarakat Idonesia pada saat novel Orang-orang proyek dilahirkan, sedang mengidap penyakit korupsi. Kondisi sosial tersebut melatar belakangi penciptaan novel, yang kemudian seolah-olah ada koherensi antara struktur ada di dalamnya dengan struktur sosial di masyarakat. Kata Kunci Strukturalisme-Genetik, Orang-orang Proyek. Pendahuluan Dalam proses pemaknaan karya sastra, banyak teori yang bisa digunakan oleh para peneliti yang dijadikan pisau analisis untuk mengoperasi’ karya sastra yang dijadikan sebagi objek penelitian. Seiring dengan berkembangnya zaman, dengan dilakukannya banyak penelitian oleh para ilmuan sastra, maka lahirlah beberapa teori. Salah satu teori tersebut adalah Strukturalisme-Genetik. Teori tersebut cukup popular di kalangan para peneliti sastra, baik para ahli sastra maupun para pelajar yang masih baru belajar memahami dan melakukan penelitian karya tersebut dilahirkan oleh Lucien Goldmann. Ia pemikir beraliran Marxis. Terori yang dilahirkannya tersebut merupakan teori sosiologis. Dengan menggunakan teori ini, berarti seorang peneliti berusaha memperlihatkan usaha pertama untuk mengatasi kecenderungan reduksionis dan simplistis dari sosiologi sastra marxis. Hal baru yang ada dalam teori tersebut tampak pada penempatan ideologi atau pandangan dunia sebagai mediasi antara masyrakat dan sastra. Selain itu, di dalam teori tersebut juga terdapat usaha untuk memberikan status yang relatif otonom pada kesusastraan sebagai lembaga sosial. Berangkat dari keyakinan bahwa proses pemaknaan karya satra tidak akan pernah mencapai finalnya, maka peneliti bertekad untuk mencoba melakukan operasi sederhana pada sebuah karya sastra dengan menggunakan teori Strukturalisme-genetik yang telah disinggung di atas. Salah satu karya sastra yang akan diteliti dalam tulisan ini adalah sebuah novel berjudul Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Novel ini meceritakan tentang seorang insinyur muda yang bekerja di sebuah proyek pembangunan jembatan milik pemerintah. Proyek pembangunan jembatan tersebut membuat insinyur yang mantan aktivis kampus merasa terbebani secara psikologis. Permainan yang terjadi di dalam proyek tersebut menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannya dan masyarakat kecillah yang akhirnya menjadi korban. Berangkat dari latar belakang di atas, dan supaya penelitian novel tersebut terurai secara sistematis, maka peneliti membatasi pembahasannya dengan tiga rumusan masalah. Pertama, bagaimana Struktur novel Orang-orang Proyek?Kedua, bagaimana Pandangan dunia kelas sosial Ahmad Tohari? Dan yang terakhir Struktur sosial seperti apa yang ada pada waktu terciptanya novel Orang-orang Proyek? Penelitian ini memiliki dua tujuan, yaitu tujuan yang bersifat teoretis dan prtaktis. Secara teoretis, penelitian ini bertujuan 1 mengungkapkan struktur novel dalam novel Orang-orang Proyek, 2 mengungkapkan mengenai pandangan dunia kelas sosial Ahmad Tohari dan 3 menjelaskan strukrur sosial yang ada pada waktu penulisan novel Orang-orang Proyek. Adapun secara praktis, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang dapat digunakan oleh pembaca untuk memahami teks karya sastra, khusunya novel dengan menggunakan teori sosiologi sastra khususnya teori Strukturalisme-Genetik yang ditawarkan oleh Lucien Goldmann. Adapun penelitian atau tulisan yang berkaitan dengan teori Struturalisme Genetik setidaknya telah peneliti temukan dalam beberapa tulisan Pertama, sebuah artikel dalam buku yang berjudul Metode Penelitian Sastra karya Faruk yang diterbitkan oleh Pustaka Pelajar di Yogyakarta pada tahun 2012. Tulisan tersebut merupakan penelitian atas sebuah cerpen dengan judul Robohnya Surau Kami karya Navis. Tulisan tersebut menguraikan mengenai analisis teks cerpen secara sosiologis berdasarkan teori strukturalisme-genetik Lucien Goldmann. Kedua, Analisis Struktural Genetik dalam Novel Mudzkkirat fi Sijn-Nisa’ karya Nawal As-Sa’dawi sebuah skripsi di Universitas Malang karya Siti Saroh pada tahun 2012. Tulisan tersebut menguraikan mengenai unsur instrinsik yang ada dalam novel dan sosiol budaya pengarang. Ketiga, Strukturalisme-Genetik Asmaraloka, sebuah tesis yang disusun oleh Gustaf Sitepu pada tahun 2009 di Sekolah Pascasarjana Sumatera Universitas Sumatera Utara. Hampir sama dengan penelitian lainnya yang juga menggunakan teori strukturalisme-genetik, tesis tersebut juga mengkaji teks sastra dari aspek sosiologis, lebih tepatnya, fokus penelitian dalam tesis tersebut adalah struktur novel Asmaraloka karya Danarto yang mencerminkan problematika hubungan antar tokoh maupun lingkungannya, latar belakang sejarah dan masyarakat yang mengkondisikan lahirnya novel Asmaraloka, dan juga pandangan dunia pengarang yang terselip dalam narasi novel Asmaraloka. Penelitian dengan topik yang sama dengan penelitian ini, khususnya kajian tentang novel Orang-orang Proyek dengan menggunakan teori Strukturalisme-genetik Lucien Goldmann, sejauh pengamatan penulis, belum ada yang melakukannya atau pun menuliskannya dalam bentuk karya ilmiah apa pun. Metode Dalam penelitian ini, metode yang digunagakan adalah deskriptif analisis dan metode dialektis yang juga merupakan bagian dari pendekatan teori strukturalisme-genetik. Metode deskriptif adalah metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, atau pun peristiwa. Tujuan adari metode deskriptif ini adalah untuk menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai obejek yang diteliti. Metode analisis dalam hal penelitian ini adalah analisis dengan menggunakan kerangka teoretis yang ada dalam strukturalisme-genetik Lucien Goldmann, yaitu metode dielektis. Dimana cara kerja analisis data selalu mengikuti apa yang telah dirumuskan dalam strukturalisme-genetik. Menurut Goldmann dalam Faruk, 200520 prinsip dasar dialektik adalah pengetahuan fakta kemanusiaan yang akan tetap abstrak jika tidak dibuat kongkret dengan mengintregrasikannya ke dalam keseluruhan. Sehubungan dengan itu, metode dilaektik mengenmbangkan dua pasangan konsep yaitu keseluruhan-bagian dan pemahaman-penjelasan. Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga caraObservasi, yaitu mencari naskah novel Orang-orang Proyek; Dokumentasi, yaitu membaca teks novel;Studi Pustaka, yaitu membaca beberapa literatur yang mendukung dan menjadi rujukan dalam penelitian. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini adalah menyesuaikan dengan kerangka teori Strukturalisme-genetik Lucien Goldmann, yaitu melalui tiga tahapanpertama, menganalisis struktur novel, yaitu menganalisis latar, alur dan penokohan. Setelah mengetahui struktur tersebut, selanjutnya menganalisis fakta kemanusiaan yang turut melatar belakangi lahirnya novel dan pandangan dunia yang ada dalam novel dan mengetahui genesis asal usul pembentukan novel Orang-orang Proyek dengan pendekatan Strukturalisme-genetik. Strukturalisme-Genetik Lucien Goldmann KerangkaTeoretis untuk Memahami Novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari Pencetus pendekatan strukuralime genetik adalah Lucien Goldmann, seorang ahli sastra Prancis. Pendekatan ini merupakan satu-satunya pendekatan yang mampu merekonstruksikan pandangan dunia pengarang. Bukan seperti pendekatan Marxisme yang cenderung positivistik dan mengabaikan kelitereran sebuah karya sastra. Goldmann tetap berpijak pada strukturalisme karena ia menggunakan prinsip struktural yang dinafikan oleh pendekatan marxisme, hanya saja, kelemahan pendekatan strukturalisme diperbaiki dengan memasukkan faktor genetik di dalam memahami karya sastra Rachmat Djoko Pradopo. et al, 200260. Goldmann dalam Teeuw, 2003 126127 menyebut metode kritik sastranya strukturalisme genetik. Ia memakai istilah strukturalisme karena lebih tertarik pada struktur kategori yang ada dalam suatu dunia visi, dan kurang tertarik pada isinya. Genetik, karena ia sangat tertarik untuk memahami bagaimana struktur mental tersebut diproduksi secara historis. Dengan kata lain, Goldmann memusatkan perhatian pada hubungan antara suatu visi dunia dengan kondisi-kondisi historis yang memunculkannya. Kemudian, atas dasar analisis visi pandangan dunia pengarang dapat membandingkannya dengan data dan analisis sosial masyarakat. Untuk menopang teorinya tersebut, Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain sehingga membentuk apa yang disebut sebagai strukturalisme genetik. Golmann percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Struktur tersebut bukan berupa sesuatu yang statis namun merupakan produk dari proses sejarah yang terus mengalami perubahan, proses strukturasi dan destrukturasi yang ada di dihayati oleh karya sastra yang bersangkutan. Strukturalisme genetik tidak dapat lepas begitu saja dari struktur dan pandangan pengarang. Pandangan pengarang itu sendiri dapat diketahui melalui latar belakang kehidupan pengarang Faruk 199912 -13. Orang yang dianggap sebagai peletak dasar mazhab genetik adalah Hippolyte Taine Sapardi Djoko Damono dalam Zaenudin Fananie 2000116. Taine mencoba menelaah sastra dari sudut pandang sosiologis. Menurut Taine, sastra tidak hanya sekedar karya yang bersifat imajinatif dan pribadi, tetapi dapat pula merupakan cerminan atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu dilahirkan Umar Junus dalam Zaenudin Fananie 2000117. Fenomena hubungan tersebut kemudian dikembangkan oleh Lucien Goldmann dengan teorinya yang dikenal dengan Strukturalisme genetik Zaenudin Fananie 2000117. Dapat dikatakan bahwa pada dasarnya Strukturalisme-Genetik Goldmann adalah penelitian sosiologi sastra Umar Junus 198820. Goldmann mengemukakan bahwa semua aktivitas manusia merupakan respon dari subjek kolektif atau individu dalam situasi tertentu yang merupakan kreasi atau percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok dengan aspirasinya. Sesuatu yang dihasilkan merupakan fakta hasil usaha manusia untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dengan dunia sekitarnya Zaenudin Fananie 2000117. Atar Semi 19877 berpendapat bahwa sosiologi adalah suatu telaah yang subjektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan tentang sosial dan proses sosial. Sosiologi menelaah tentang bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan masalah perekonomian, keagamaan, politik dan lain-lain, kita melihat gambaran tentaang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mekanisme kemasyarakatannya, serta proses pemberdayaannya. Sementara, sastra itu sendiri pada dasarnya berurusan dengan manusia, bahkan sastra diciptakan oleh anggota masyarakat yang terikat oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai media. Bahasa itu merupakan ciptaan sosial yang menampilkan gambaran kehidupan. Meskipun sastra dan sosiologi merupakan dua bidang yang berbeda, tetapi keduanya saling melengkapi. Seperti yang diungkapkan oleh Wellek dan Warren 199584, meskipun sastra dianggap cerminan keadaan masyarakat, pengertian tersebut masih sangat kabur. Oleh karena itu banyak disalahtafsirkan dan disalahgunakan. Namun demikian, Grebstein dalam Sapardi Djoko Damono 19784 mengatakan bahwa meskipun sastra tidak sepenuhnya dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ia ditulis, karya sastra tidak dapat dipahami secara selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungannya atau kebudayaan atau peradaban yang telah menghasilkannya. Ia harus dipelajari dalam konteks yang seluas-luasnya, dan tidak hanya dirinya sendiri, karena setiap karya sastra adalah hasil dari pengaruh timbal balik dari fakta-fakta sosial, kultural yang rumit dan bagaimanapun karya sastra bukanlah suatu gejala yang tersendiri. Sapardi Djoko Damono dalam Faruk 1999 a 4-5 menemukan tiga macam pendekatan dalam sosiologi sastra. Pertama, konteks sosial pengarang. Hal ini berhubungan dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dalam kaitannya dalam masyarakat pembaca. Dalam pokok ini termasuk pula faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi pengarang sebagai perorangan di samping mempengaruhi isi karya sastranya. Yang harus diteliti dalam pendekatan ini adalah 1 bagaimana pengarang mendapatkan mata pencahariannya, 2 sejauh mana pengarang menganggap pekerjaannya sebagai suatu profesi, 3 masyarakat apa yang dituju oleh pengarang. Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat. Yang terutama mendapat perhatian adalah 1 sejauh mana sastra mencerminkan masyarakat pada waktu karya itu ditulis, 2 sejauh mana sifat pribadi pengarang mempengaruhi gambaran masyarakat yang ingin disampaikannya, 3 sejauh mana genre sastra yang digunakan pengarang dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat. Ketiga, fungsi sosial sastra. Dalam hubungan ini ada tiga hal yang menjadi perhatian 1 sejauh mana sastra dapat berfungsi sebagai perombak masyarakat, 2 sejauh mana sastra hanya berfungsi sebagai penghibur saja, dan 3 sejauh mana terjadi sintesis antara kemungkinan 1 dan kemungkinan 2 di atas. Strukturalisme-Genetik pada prinsipnya adalah teori sastra yang berkeyakinan bahwa karya sastra tidak semata-mata merupakan suatu struktur yang statis dan lahir dengan sendirinya, melainkan merupakan hasil strukturasi struktur kategoris pikiran subjek penciptanya atau subjek kolektif tertentu yang terbangun akibat interaksi antara subjek itu dengan situasi sosial dan ekonomi tertentu. Oleh karena itu, pemahaman mengenai struktur karya sastra, bagi strukturalisme genetik, tidak mungkin dilakukan tanpa pertimbangan faktor-faktor sosial yang melahirkannya, sebab faktor-faktor itulah yang memberikan kepaduan pada struktur itu Goldmann dalam Faruk 1999 b13. Penelitian strukturalisme genetik semula dikembangkan di Perancis atas jasa Lucien Goldmann. Dalam beberapa analisis novel, Goldmann selalu menekankan latar belakang sejarah. Karya sastra, di samping memiliki unsur otonom juga tidak dapat lepas dari unsur ekstrinsik. Teks sasta sekaligus mempresentasikan kenyataan sejarah yang mengkondisikan munculnya karya sastra. Menurut Goldmann dalam Endraswara, 200355-56, studi strukturalisme-genetik memiliki dua kerangka besar. Pertama, hubungan antara makna suatu unsur dengan unsur lainnya dalam suatu karya sastra yang sama. Kedua, hubungan tersebut membentuk suatu jaring yang mengikat. Oleh karena itu, seorang pengarang tidak mungkin mempunyai pandangan sendiri. Pada dasarnya, pengarang akan menyarankan suatu pandangan dunia yang kolektif. Pandangan tersebut juga bukan realitas, melainkan sebuah refleksi yang diungkapkan secara imajinatif. Sebagai sebuah teori, strukturalisme-genetik merupakan sebuah pernyataan sahih mengenai kenyataan. Sebuah pernyataan dapat dianggap sahih bila di dalamnya terkandung gambaran mengenai tata kehidupan yang bersistem dan terpadu yang memiliki landasan ontologis berupa kodrat keberadaan kenyataan, dan memiliki landasan epistemologis berupa seperangkat gagasan yang sistematis mengenai cara memahami dan mengetahui kenyataan yang bersangkutan. Ada enam konsep dasar yang membangun teori strukturalisme-genetik, yaitu fakta manusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan Faruk, 1999 b12. Fakta Kemanusiaan Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik. Fakta tersebut dapat berwujud aktifitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni patung, dan seni sastra Faruk, 1999 b12. Fakta-fakta kemanusiaan pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fakta individual dan fakta sosial. Fakta yang kedua mempunyai peranan penting dalam sejarah, sedangkan fakta yang pertama tidak memiliki hal itu. Fakta yang pertama hanya merupakan hasil dari perilaku libidinal seperti mimpi, tingkah laku orang gila dan sebagainya, sedangkan fakta yang kedua mempunyai dampak dalam hubnungan sosial, ekonomi, maupun politik antar anggota masyarkat. Goldmann dalam Faruk, 1999 b12 menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan merupakan suatu struktur yang berarti. Adapun yang dimaksudkannya adalah bahwa fakta-fakta itu sekaligus mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu. Fakta tersebut mempunyai struktur karena terikat oleh satu tujuanyang menjadi artinya. Dengan kata lain, fakta-fakta itu merupakan hasil usaha manusia mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitar. Subjek kolektif Subjek kolektif adalah subjek yang berparadigma dengan subjek fakta sosial historis. Subjek ini juga disebut subjek trans individual. Goldmann mengatakan dalam Faruk, 1999 b14-15 revolusi sosial, politik, ekonomi, dan karya-karya kultural yang besar, merupakan fakta sosial historis. Faruk201263 beranggapan bahwa subjek kolektif merupakan konsep yang masih kabur. Subjek kolektif bisa berupa kelompok kekerabatan, kelompok sekerja, kelompok territorial dan sebagainya. Pendekatan strukturalisme genetik Lucien Goldmann terdiri dari empat aspek, yaitu makna totalitas karya sastra, pandangan dunia pengarang, struktur teks karya sastra, dan struktur sosial masyarakat yang terdapat dalam karya sastra Nugraheni 159. Menurut Suwardi Endraswara, penelitian strukturalisme-genetik memandang karya sastra dari dua sudut, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali dari kajian unsur intrinsik kesatuan dan koherensinya sebagai data dasarnya. Selanjutnya, penelitian akan menghubungkan berbagai unsur dengan relitas masyarakatnya. Karya dipandang sebagai refleksi zaman, yang dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya. Peristiwa-peristiwa penting dari zamannya akan dihubungkan langsung dengan unsur-unsur intrinsik karya sastra Suwardi Endraswara, 200356. Hal senada juga diungkapkan dalam Jabrohim ed, penelitian strukturalisme genetik, memandang karya sastra dari dua sudut yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan ini mempunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi, apabila para peneliti sendiri tidak melupakan atau tetap memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun karya sastra, di samping memperhatikan faktor-faktor sosiologis, serta menyadari sepenuhnya bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan memanfaatkan faktor imajinasi Jabrohim ed, 2001 82. Strukturalisme-genetik secara sederhana dapat diformulasikan dalam tiga langkah. Pertama, peneliti bermula dari kajian unsur intrinsik, baik secara parsial maupun dalam jalinan keseluruhannya. Kedua, mengkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena ia merupakan bagian dari komunitas tertentu. Ketiga, mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang Suwardi Endraswara, 200362. Struktiralisme-genetik merupakan embrio penelitian sastra dari aspek sosial yang kelak disebut sosiologi sastra. Hanya saja, srukturalisme genetik tetap mengedepankan juga aspek struktur. Baik struktur dalam maupun struktur luar tetap dianggap penting bagi pemahaman karya sastra. Menurut Suwardi Endraswara 200360 yang terpenting dari kajian strukturalisme genetik adalah karya sastra yang mampu mengungkapkan fakta kemanusiaan. Fakta ini mempunyai unsur yang bermakna, karena merupakan pantulan respon-respaon subyek kolektif dan individual dalam masyarakat. Subyek tersebut selalu berinteraksi dalam masyarakat untuk melangsungkan hidupnya. Pandangan Dunia Dalam teori struktulasime-genetiknya, ia juga mengembangkan konsep pandangan dunia vision du monde world vision. Maksud dari konsep ini adalah struktur global yang bermakna, yakni suatu pemahaman dunia secara total yang mencoba menangkap maknanya, dengan segala kerumitan dan keutuhannnya. Goldmann Goldmann dalam Sapardi Djoko Damono,198440-41 juga menyatatakan bahwa pandangan dunia sangat erat kaitannya dengan kelas-kelas sosial, artinya pandangan dunia selalu merupakan pandangan kelas sosial. Bagi Goldmann, pandangan dunia bukanlah merupakan fakta empiris secara langsung, tetapi ia adalah struktur gagasan , aspirasi, dan perasaan yang dapat menyatukan suatu kelompok sosial di hadapan kelompok sosial yang lain. Menurutnya, padangan dunia adalah abstraksi yang mencapai bentuk konkrit dalam sastra dan dunia ini tidak lain adalah suatu bentuk kesadaran yang menyatukan individu-individu menjadi suatu kelompok yang memiliki identitas kolektif. Pandangan dunia bukan hanya merupakan ekspresi kelompok sosial, tetapi juga kelas sosial. Konsep ini bisa dilihat melalui pengarang, seorang pengarang merupakan anggota sosial, sebab lewat suatu kelaslah ia berinteraksi dan berhubungan langsung dengan perubahan sosial dan politik yang besar. Perubahan sosial dan politik akan merangsang adanya kesadaran kelas, karena perubahan tersebut merupakan ekspresi antagonisme kelas. Karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia visiun du monde penulis, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakatnya. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa strukturalisme genetik merupakan penelitian sastra yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yang diekspresikannya. Oleh karena itu, karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja Endraswara 200357. Dalam karya sastra, Goldmann berpendapat bahwa pandangan dunia akan menentukan struktur suatu karya sastra. Ia menyatakan bahwa karya yang sahih adalah karya sastra yang memiliki kepaduan internal yang menyebabkannya mampu mengekspresikan kondisi manusia secara universal dan mendasar. Pandangan dunia itu sendiri menurut Umar Junus 198816 terikat pada masa tertentu dan ruang tertentu. Keterlambatannya kepada masa tertentu menyebabkan ia mesti bersifat sejarah. Sehingga, sebuah analisis Strukturalisme-Genetik didasarkan faktor kesejarahan tanpa menghubungkannya dengan fakta-fakta sejarah suatu subjek kolektif di mana suatu karya diciptakan, tidak seorangpun akan mampu memahami secara komprehensif pandangan dunia atau hakikat makna dari karya yang dipelajari Goldman dalam Zaenudin Fananie, 2000120. Pandangan dunia yang ditampilkan pengarang lewat tokoh problematik problematic hero merupakan suatu struktur global yang bermakna. Pandangan dunia ini bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi dan perasaan yang dapat mempersatukan suatu kelompok sosial masyarakat. Pandangan dunia itu memperoleh bentuk konkret di dalam karya sastra. Pandangan dunia bukan fakta. Pandangan dunia tidak memiliki eksistensi objektif, tetapi merupakan ekspresi teoritis dari kondisi dan kepentingan suatu golongan masyarakat tertentu. Hal-hal tersebut di atas dimaksudkan untuk menjembatani fakta estetik. Goldmann dalam Zaenudin Fananie, 2000118. Adapun fakta estetik dibaginya menjadi dua tataran hubungan yang meliputi a Hubungan antara pandangan dunia sebagai suatu realitas yang dialami dan alam ciptaan pengarang. b Hubungan alam ciptaan dengan alat sastra tertentu seperti diksi, sintaksis, dan style yang merupakan hubungan struktur cerita yang dipergunakan pengarang dalam ciptaannya. Menurut Goldmann dalam Umar Junus, 198816 hubungan genetik antara pandangan dunia pengarang dalam sebuah novel atau karya adalah pandangannya dengan pandangan dunia pada suatu ruang tertentu dalam masa tertentu, sehingga pendekatan ini dikenal dengan Strukturalisme-Genetik. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pandangan dunia pengarang terdiri dari hubungan antara konteks sosial dalam novel dengan konteks sosial kehidupan nyata dan hubungan latar sosial budaya pengarang dengan karya sastra. Sosial Yakob Sumardjo 198212 berpendapat bahwa sastra adalah produk masyarakat, berada di tengah masyarakat, karena dibentuk oleh anggota masyarakat berdasarkan desakan emosional dan rasional dari masyarakat. Konteks sosial novel merupakan karya sastra yang lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejalagejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, sebuah karya sastra berakar pada kultur tertentu dan masyarakat tertentu Iswanto dalam Jabrohim 200161. Belakang Sosial Budaya Pengarang Latar belakang sosial budaya pengarang dapat mempengaruhi penciptaan karya-karyanya, karena pada dasarnya sastra mencerminkan keadaan sosial baik secara individual pengarang maupun secara kolektif. Seorang pengarang adalah anggota kelas sosial, maka lewat suatu kelaslah ia berhubungan dengan perubahan sosial dan politik yang besar. Perubahan sosial dan politik itu sendiri adalah ekspresi antanogis kelas, dan jelas mempengaruhi kesadaran kelas Sapardi Djoko Damono 197842. Kelas sosial pengarang akan mempengaruhi bentuk dan karya yang diciptakannya, sebagaimana dikatakan Griff dalam Faruk 1999 a 55 sekolah dan latar belakang keluarga dengan nilai-nilai dan tekanannya mempengaruhi apa yang dikerjakan oleh sastrawan. Dari pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kehidupan sosial budaya pengarang akan mempengaruhi karya sastra yang ditulis. Pengarang merupakan bagian dari komunitas tertentu. Kehidupan sosial budaya pengarang akan dapat mempengaruhi karya sastranya. Pengarang menyalurkan reaksinya terhadap fenomena sosial budaya dan mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya tentang satu peristiwa. Kehidupan sosial budaya pengarang akan memunculkan pandangan dunia pengarang karena pandangan dunia pengarang terbentuk dari pandangan pengarang setelah berintereaksi dengan pandangan kelompok sosial masyarakat. Pengarang Ideologi atau pandangan pengarang akan memunculkan pandangan dunia pengarang, karena pandangan dunia pengarang terbentuk dari pandangan pengarang setelah ia berinteraksi dengan pandangan kelompok sosial masyarakat pengarang. Masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi, produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan di dalam karya sastra. Dalam melakukan kajian dengan metode strukturalisme genetik, langkah-langkah yang ditawarkan oleh Laurensin dan Swingewood yang disetujui oleh Goldman dalam Jabrohim 2001 64-65 sebagai berikut Peneliti sastra itu dapat kita ikuti sendiri. Mula-mula sastra diteliti strukturnya untuk membuktikan jaringan bagian-bagiannya sehingga terjadi keseluruhan yang padu dan holistik. Penghubungan dengan sosial budaya. Unsur-unsur kesatuan karya sastra dihubungkan dengan sosio budaya dan sejarahnya, kemudian dihubungkan dengan struktur mental yang berhubungan dengan pandangan dunia pengarang. Dalam teorinya, Golmann juga menggunakan konsep strukturasi. Menurutnya Goldmann dalam Faruk, 201271-73, karya sastra merupakan produk strukturasi dari subjek kolektif. Sebab itulah karya sastra mempunyai struktur yang koheren dan terpadu. Dalam teori strukturalisme-genetik, konsep struktur karya sastra berbeda dengan konsep struktur secara umum. Melalui esai yang berjudul “ The Epistemology of Sociology”, Golmann menyatakan dua pendapat mengenai karya sastra pada karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia imajiner. Kedua, dalam usaha mengekspresikan pandangan dunia, pengarang menciptakan tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi-relasi secara imajiner. Melalui kedua pendapatnya tersebut, Goldmann membedakan karya sastra dar filsafat dan sosiologi. Goldmann menyatakan bahwa filsafat mengekspresikan pandangan dunia secara konseptual, sedangkan sosiologi mengacu pada empirisitas. Berdasarkan kedua pendapatnya itu, maka dapat dikatakan bahwa Goldmann mempunyai konsep struktur yang bersifat tematik. Pusat perhatiannya adalah relasi antara tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan objek yang ada di sekitar dirinya. dan Penjelasan Adapun yang dimaksud dengan konsep pemahaman adalah usaha mendeskripsikan struktur objek yang dipelajari. Sedangkan maksud dari penjelasan adalah usaha menggabungkannya ke dalam struktur yang lebih besar Goldmann dalam Faruk, 201279. Pemahaman adalah usaha untuk mengerti identitas bagian, sedangkan penjelasan adalah usaha untuk mengerti makna bagian itu dengan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar Faruk, 201279 Sinopsis Novel Sebagaimana yang telah disinggung di awal bahwa novel Orang-orang Proyek menceritakan sebuah penggalan perjalanan hidup seorang insinyur muda bernama Kabul yang juga seorang mantan aktivis kampus yang kemudian menjadi insinyur muda dan bekerja di sebuah proyek pembangunan jembatan milik pemerintah. Ia merasa proyek tersebut menjadi beban berat secara permainan yang sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya sebagai manusia yang memegang prinsip. Tanpa terasa proyek pemabangunan jembatan tersebut telah berjalan tiga bulan. Namun karena pembangunan dimulai ketika hujan masih sering turun, maka volume pekerjaan yang dicapai berada di luar target. Menghadapi kenyataan ini, Kabul sering uring-uringan. Ia jengkel karena hambatan ini sesungguhnya bisa dihindari bila saja pemerintah sebagai pemilik proyek dan para politikus tidak terlalu banyak campur tangan dalam tingkat pelaksanaan. Proyek yang dibiayai dengan dana pinjaman luar negeri ini akan menjadi beban masyarakat, mereka anggap milik pribadi. Kabul tahu bagaimana bendahara proyek mengeluarkan dana untuk kegiatan partai golongan penguasa. Di dalam proyek itu Kabul bekerja dengan Dalkijo yang merupakan seniornya di proyek itu. Ia dan Dalkijo sama-sama seorang insinyur yang berasal dari lapisan masyarakat bawah. Walau pun keduanya memiliki latar belakang ekonomi yang rendah, tapi setelah mereka sama-sama terlepas dari kemiskinan, ada perbedaan yang sangat jelas menyekat keduanya. Dalkijo yang telah sukses menjadi insinyur, tidak lagi mau mengingat kemiskinan yang pernah melilitnya. Gaya hidupnya tidak lagi mencerminkan kesederhanaan. Ia benar-benar dendam dengan kemelaratan dan kemiskinan. Demi untuk mencapai kekayaan yang diimpikannya, Dalkijo menghalalkan segala cara di dalam pekerjaannya. Dalkijo tidak pernah benar-benar professional dalam melaksanakan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Permainan lelang , lobi dan lain-lain dalam pekerjaannya dianggap sebagai hal yang biasa saja. Padahal hal itu berefek pada mutu hasil proyek yang menjadi taruhan dan masyarakat yang mengemban dampak buruknya. Tapi Dalkijo tidak memperdulikan semua itu. Baginya profesionalitas tidak penting, karena yang terpenting adalah bagaimana ia bisa meraup keuntungan yang sebesar-besarnya untuk memperkaya dirinya. Sebab hanya dengan bersikap pragmatislah, kemiskinan bisa dihentikan. Berbeda dengan Dalkijo, Kabul yang juga memiliki latar belakang hidup yang miskin, tapi setelah dia sukses tetap mempertahankan gaya hidup yang sederhana. Kesuksesan yang diaraihnya tidak disikapi dengan penuh dendam. Sebagai insinyur, ia tetap mempertahankan idealismenya, bekerja dengan baik dan selalu professional. Baginya, semua proyek termasuk proyek pembangunan jembatan yang sedang dikejakan, harus dikerjakan secara professional. Tapi karena dia sendiri yang tetap bertahan dengan idealismenya, sementara insinyur dan pekerja proyek yang lain rela mempermainkan proyek tersebut, akhirnya Kabul memutuskan untuk keluar dari proyek tersebut dan memilih untuk tidak bekerja sebagi orang-orang proyek yang tidak lagi professional menurutnya. Sebab baginya, proyek yang dikerjakannya sangat bertentangan dengan idealismenya. Baginya, proyek itu tidak lagi dikerjakan untuk memberi kemakmuran bagi masyarakat setempat, tetapi dijadikan ladang keuntungan bagi pihak-pihak tertentu yang dengan serakah mengambil keuntungan. Analisis Novel Sebuah Aplikasi Teori Strukuralisme-Genetik Dengan melihat sinopsis yang ditulis di atas, tampak bahwa ada penyimpangan yang terjadi di dalam pengerjaan proyek tersebut. Hal tersebut secara lebih luas juga bisa dilihat dalam kutipan-kutipan isi novel sebagai berikut Kutipan I Dan campur tangan itu ternyata tidak terbatas pada penentuan awal pekerjaan yang menyalahi rekomendasi para perancang, tapi msauk juga hal-hal lain. Proyek ini, yang dibiayai dengan dana pinjaman luar negeri dan akan menjadi beban masyarakat, mereka anggap sebagai milik pribadi. Kabul tahu bagaimana bendahara proyek wajib mengeluarkan dana untuk kegiatan partai golongan penguasa. Lewat kutipan ini, dapat dilihat adanya pihak yang telah mengambil keuntungan di balik proyek pembangunan jembatan yang diuntungkan pastinya bukan masyarakat secara umum melainkan golongan-golongan penguasa. Kutipan II “Mas, mutu pasir giling ini kurang baik,ya? Pasti batu kalinya juga bermutu rendah.” Kabul mengangkat alis. Dalam hati dia memuji adiknya yang bermata jeli. “Di sana tadi saya lihat besi rancang betonnya buatan pabrik yang tak punya merek dagang. Mas percaya akan mutunya?” Sekali lagi Kabul mengangkat alis.”Oh, adikku, kamu belum tahu betapa sulit menaati ketentuan ilmu teknik di proyek ini. Karena anggaran sudah jadi bancakan, sehingga semua sektornya harus ditekan. Biro pengawas yang menjamin pengawas yang menjamin mutu proyek pun tidak kebal duit. Dan orang-orang DPRD?Ah, mereka tak mau pusing apakah pasir atau besi beton memenuhi persyaratan teknik atau tidak. Bagi mereka yang penting bendaharawan proyek tahu’ bila mereka datang. Kutipan di atas menunjukkan betapa pragmatisnya orang-orang proyek dan pihak-pihak pemerintah yang terlibat di dalamnya. Mereka tidak memperdulikan lagi apa sebenarnya tujuan dari dibangunnya jembatan tersebut, yang penting bagi mereka adalah bisa mengambil keuntungan dari proyek yang mereka garap, bukan semata-mata untuk kesejahteraan umum. Kutipan III “Saya tahu dia jenuh. Dia, saya juga, termasuk orang yang ingin melihat budi luhur sebagai tujuan dan milik orang beragama. Kabul kecewa akan kenyataan yang tidak demikian. Di proyek yang sedang digarap, Kabul menghadapi permainan-permainan kotor yang dilakukan oleh mereka yang resmi mengaku beragama, sudah pula ditatar dengan pedoman pengamalan mereka tetap serakah. Anggaran, fasilitas maupun barang-barang proyek yang sesungguhnya milik rakyat acap menjadi bancakan…” Melihat pada kutipan tersebut di atas, sepertinya penulis menggambarkan idealisme Kabul yang kokoh. Selain itu, penulis juga seolah-olah menjelaskan betapa bangsa inikhususnya pemerintah dan orang-orang proyek sudah tidak lagi mementingkan kemaslahatan umum. Mereka hanya menjadikan proyek sebagai lahan untuk digarap dengan keserakahan mereka. Kutipan IV Memang Kabul sering ditertawakan Dalkijo.“Apa dengan memperthankan idealismemu orang-orang miskin di sekeliling kita menjadi baik?” seloroh Dalkijo suatu saat.”Apa kejujuranmu cukup berarti untuk mengurangi korupsi di negeri ini?” Dari kutipan yang satu ini, tampak adanya sifat pesimis yang ada di dalam pikiran tokoh Dalkijo. Kejujuran yang ditampakkan oleh Kabul seolah tidak berarti apa-apa, sebab hanya sedikit sekali yang berani jujur, yang lain malah terjebak pada permainan kotor yang telah novel ini, Dalkijo merupakan tokoh yang sangat pragmatis. Walaupun ia memiliki latar belakang yang sama dengan Kabul, tapi ia tidak bisa bersikap ideal dan professional seperti Kabul. Dengan kata lain, ia telah terbawa arus oleh budaya hidup korupsi di sekitarnya. Struktur Karya Sastra Manusia-manusia yang ada di dalam novel tersebut antara lain meliputi Kabul, Dalkijo, pak Tarya dan Basar. Lingkungan alamnya adalah alam yang potensial, seperti sungai dan sekitarnya. Lingkungan kulturalnya adalah pedesaan, kampung, warteg,gosip, agama Islam. Lingkungan sosial pekerja proyek yang kaya dan pragmatis,pekerja proyek yang sukses dan idealis, rakyat miskin, orang kampung, perempuan. Relasi oposisi yang terbangun dari lingkaran imajiner tersebut adalah sebagai berikut Oposisi kultural Sikap manusia yang pragmatis berlawanan dengan pekerja yang idealis, pragmatis mendominasi dan mengalahkan yang idealis. Kejujuran dan kelicikan. Orang-orang desa dan kota. Oposisional tersebut semuanya merupakan bagian dari oposisional yang lebih besar, yaitu tradisional dan modernisme. Di antara oposisi tersebut ditengahi oleh pendidikan tinggi dan pencapaian kemapanan hidup. Oposisi alamiah Alam lahan desa yang menjadi objek proyek pembangunan jembatan oleh manusia dan secara tidak langsung alam juga sebagai subjek bagi manusia, alam ikut membentuk manusia. Oposisi sosial masyarakat biasa dan politikus yang korupsi, para penduduk kampung dan orang-orang proyek yang tidak professional. Oposisi manusia Kabul yang idealis dan Dalkijo yang pragmatis. Pandangan Dunia Struktur karya sastra di atas mengekspresikan pandangan dunia yang idealis-humanis dan sosialis-religius. Idealis-humanis ini terangkum dalam salah satu sila dalam pancasila, yaitu sila ke-2, yang berbunyi kemanusian yang adil dan beradab. Di dalam sila ini manusia, khususnya bangsa Indonesia dituntut untuk berbuat adil dan menjunjung tinggi sikap yang beradab, yakni tidak merugikan satu sama lain. Di dalam novel ini, tokoh utama telah mencerminkan sikap ideal yang tercantum dalam sila tersebut. Lewat tokoh Kabul, penulis, Ahmad Tohari secara tidak langsung menolak keras praktik korupsi di semua aspek karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ideal, sebagimana yang telah tertera dalam pancasila sebagai ideologi dan dasar Negara Indonesia. Demikianlah pandangan dunia yang ditampilkan oleh Ahmad Tohari, karena bagaimana pun Ahmad Tohari adalah bangsa Indonesia yang juga menganut ideology pancasila. Ia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang tersirat di dalam setiap sila Pancasila, salah satunya yang sangat konteks dengan karyanya ini adalah sila yang kedua, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Struktur Sosial Pada saat novel ini ditulis, yakni sekitar tahun 2001, struktur sosial masyarakat Idonesia sedang digandrungi penyakit korupsi yang kian mewabah. Para pejabat sering memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri, tetutama para elit politik yg sedang marak mencari dana kampanye. Banyak kelicikan yang dilakukan oleh golongan tertentu untuk suatu kepentingan tertentu pula yang tidak berpihak pada masyarakat bawah. Fenomena ini terjadi seiring dengan digalakkannya sistem pemerintahan yang demokratis. Tetapi sistem pemerintahan yang berjalan tidak benar-benar demokratis. Banyak partai dan golongon baru yang bermuculan untuk berlombah-lombah mencapai tujuan dan kepentingan masing-masing. Kemudian setiap partai atau golongan yang memiliki ruang kekuasaan selalu memanfaatkan ruang tersebut untuk memperkaya diri dan golongan-golongan tertentu. Bagi masyarakat yang mendapatkan ruang di birokrasi, maka mereka memanfaatkan birokrasi untuk mencapai tujuan dan kepentingan pribadi mereka. Bagi yang mendapatkan ruang atau peluang di lingkungan kerja proyek pemerintah dll., maka mereka akan memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari proyek tersebut sebagaimana yang telah diangkat dalam novel Ahmad Tohari tersebut, yakni mengambil keuntungan dengan tanpa memperdulikan aturan-aturan yang semestinya. Banyak proyek yang di dalamnya terdapat permainan-permainan kotor yang dilakukan oleh oknum masyarakat, terutama mereka yang tidak memiliki idealisme yang kuat untuk tidak melakukan korupsi atau penyimpangan-penyimpangan yang lain. Sebagimana yang telah pernah dinyatakan oleh Faruk HT., realitas kehidupan yang demikianlah yang membuat novel yang diteliti penulis ini menjadi “dongeng yang nyata”dongen tetapi nyata, nyata tetapi dongeng Faruk,171. Atau dengan kata lain dunia nyata direpresentasikan oleh novel, sebab ada homologi antara struktur yang ada di dalam novel dengan struktur yang ada di dalam sosial masyarakat SIMPULAN Berdasarakan pada analisis yang telah dijelaskan sebelumnya dan sesuai dengan rumusan masalah, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut dalam novel Orang-orang Proyek Novel tersebut menceritakan banyak tokoh, tapi penulis hanya mengambil beberapa tokoh yang dianggap penting dalam penelitian ini, yaitu antara lain; Kabul, Dalkijo, Pak Tarya, Basar. Adapun lingkungan alamnya adalah berupa alam yang potensial, seperti sungai dan sekitarnya. Lingkungan kulturalnya adalah pedesaan, kampung, warteg, gosip, agama Islam. Lingkungan sosial pekerja proyek yang kaya dan pragmatis, koruptor dan pekerja proyek yang sukses dan idealis, rakyat miskin, orang kampung, perempuan. Relasi oposisi yang terbangun dari lingkaran imajiner tersebut adalah sebagai berikut Oposisi kultural Sikap manusia yang pragmatis berlawanan dengan pekerja yang idealis, pragmatis mendominasi dan mengalahkan yang idealis. Kejujuran dan kelicikan. Orang-orang desa dan kota. Oposisional tersebut semuanya merupakan bagian dari oposisional yang lebih besar, yaitu tradisional dan modernisme. Di antara oposisi tersebut ditengahi oleh pendidikan tinggi dan pencapaian kemapanan hidup. Oposisi alamiah Alam lahan desa yang menjadi objek proyek pembangunan jembatan oleh manusia dan secara tidak langsung alam juga sebagai subjek bagi manusia, alam ikut membentuk manusia Oposisi sosial masyarakat biasa dan politikus yang korupsi, para penduduk kampung dan orang-orang proyek yang tidak professional. Oposisi manusia Kabul yang idealis dan Dalkijo yang pragmatis. Pandangan Dunia Struktur karya sastra di atas mengekspresikan pandangan dunia yang idealis-humanis dan sosialis-religius. Idealis-humanis ini terangkum dalam salah satu sila dalam pancasila, yaitu sila ke-2, yang berbunyi kemanusian yang adil dan beradab. Di dalam sila ini manusia, khususnya bangsa Indonesia dituntut untuk berbuat adil dan menjunjung tinggi sikap yang beradab, yakni tidak merugikan satu sama lain. Di dalam novel ini, tokoh utama telah mencerminkan sikap ideal yang tercantum dalam sila tersebut. Lewat tokoh Kabul, penulis, Ahmad Tohari secara tidak langsung menolak keras praktik korupsi di semua aspek karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ideal, sebagimana yang telah tertera dalam pancasila sebagai ideologi dan dasar Negara Indonesia. Demikianlah pandangan dunia yang ditampilkan oleh Ahmad Tohari, karena bagaimana pun Ahmad Tohari adalah bangsa Indonesia yang juga menganut ideology pancasila. Ia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang tersirat di dalam setiap sila Pancasila, salah satunya yang sangat konteks dengan karyanya ini adalah sila yang kedua, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Sosial Pada saat novel ini ditulis, yakni sekitar tahun 2001, struktur sosial masyarakat Idonesia sedang mengidap penyakit korupsi yang kian mewabah. Para pejabat sering memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya diri, tetutama para elit politik yg sedang marak mencari dana kampanye. Banyak kelicikan yang dilakukan oleh golongan tertentu untuk suatu kepentingan tertentu pula yang tidak berpihak pada masyarakat bawah. Fenomena ini terjadi seiring dengan digalakkannya sistem pemerintahan yang demokratis. Tetapi sistem pemerintahan yang berjalan tidak benar-benar demokratis. Banyak partai dan golongon baru yang bermuculan untuk berlombah-lombah mencapai tujuan dan kepentingan masing-masing. Kemudian setiap partai atau golongan yang memiliki ruang kekuasaan selalu memanfaatkan ruang tersebut untuk memperkaya diri dan golongan-golong tertentu. Hal itu yang kemudian menjadi salah satu menyebab seseorang bersikap pragmatis dalam mengerjakan suatu tugas atau kewajiban yang menjadi tangggung jawabnya. Dengan menggunakan metode dialektik, dapat ditemukan kenyataan bahwa no vel tersebut mengekspresikan pandangan dunia yang diyakini oleh lingkungan karakter sosial tertentu yakni masyarakat sosial yang idealis dan humanis yang dihadapkan pada lingkungan masyrakat yang pragmatis, yang kemudian menyebabkan penyimpangan-penyimpangan di dalamnya patologi sosial. Homologi antara struktur karya sastra novel ini dengan strukrur sosial tempat novel tersebut dilahirkan merupakan embrio dari adanya pandangan dunia yang ditampilkan oleh pengarang. Terlepas dari hasil pencapaian tujuan penelitian yang telah penulis uraiakan, sebuah karya sastra termasuk novel Orang-orang Proyek selalu terbuka untuk diteliti dengan berbagai pendekatan. Penelitian dalam tulisan ini bukanlah suatu hal yang yang final dari sebuah proses penelitian. Novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari yang menjadi objek dalam penelitian ini masih dapat dipahami dan diinterpretasi maknanya melalui berbagai pendekatan dan karena itu, penulis berharap hasil penelitian ini dapat menjadi gerbang bagi para peneliti berikutnya untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam. DAFTAR PUSTAKA Faruk. 1999 a. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta Pustaka Pelajar. _____. 1999 b. Strukturalisme – Genetik Teori General, Perkembangan Teori, dan Metodenya.Yogyakarta Masyarakat Poetika Indonesia. Jabrohim ed.. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta Hanindita Graha Widia. Nugraheni Makna Totalitas Novel Para Priyayi dan Novel Jalan Menikung Karya Umar Kayam Pendekatan Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta Gama Media. Sapardi Djoko Damono. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Semi, Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung Angkasa. Suwardi Endraswara. 2003. Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta Pustaka Widyatama. Teeuw, A. 2003. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta Pustaka Jaya. Umar Junus. 1986. Resepsi Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta PT. Gramedia. Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusasteraan. Terjemahan Melani Budianto. Jakarta Gramedia. Yakob Sumardjo. 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta Nur Cahaya. Zaenuddin Fananie. 2000. Telaah Sastra. Surakarta Muhammadiyah University Press.
Filter ByUpdating statusAllOngoingCompletedSort ByAllPopularRecommendationRatesUpdated AKIBAT ORANG KETIGA Fahira dan Gilang berpisah karena orang ketiga yang tidak lain adalah sahabat Fahira sendiri. Fahira memergoki suaminya sedang berduaan di kamar Hesti sahabatnya. Dan lebih gilanya, ibu mertua Fahira justru mendukung anaknya untuk berpisah dengan Fahira. Alasan mertua Fahira, karena Hesti memili viewsCompleted Bukan Orang Ketiga Tumbuh menjadi sosok gadis yang memiliki kecantikan paripurna nyatanya tak membuat seorang Shofia Karina menjadi istimewa. Dunia memandangnya berbeda dan kejam saat tahu tentang jati diri yang dimilikinya dan juga masa lalu kelam sang bunda. Membuat gadis itu tak memiliki keberanian untuk mengklaim sesuatu sebagai miliknya. Hidupnya hanya selalu belajar ikhlas merelakan apapun yang ia miliki saat diinginkan orang lain. Namun, bagaimana jika keikhlasannya dihadapkan pada sebuah hati dan cinta yang ia miliki tengah diinginkan orang lain? Mampukah Shofi mengikhlaskan cintanya pada orang lain? "Kenapa kamu selalu memberikan apapun milikmu yang diinginkan orang lain?" "Aku hanya sedang belajar ilmu ikhlas, juga aku takut sesuatu yang aku miliki tanpa aku sadari ternyata itu sebenarnya milik orang lain." "Lalu jika seseorang menginginkan suamimu ... apa kamu juga akan memberikanku pada mereka?" viewsCompleted RINDU SUAMI ORANG Aku rindu suami orang? Percayalah, perselingkuhan itu manis di depan pahit di belakang. Bagaimana setelah kamu melakukan perselingkuhan, lalu endingnya cerai. Setelah itu pasanganmu menikah lagi dengan wanita yang lebih baik darimu. Kemudian, mereka lebih sukses, si mantan memperlakukan istrinya dengan kasih sayang, dan endingnya kamu pasti akan rindu sosok mantan suamimu itu, yang sudah menjadi suami orang. viewsCompleted Orang Ketiga Indonesia Dacytta Peach Apa yang sudah ia miliki, tidak boleh jatuh ke tangan orang lain. Begitu pun dengan Lea oleh calon tunangannya sendiri, membuat Lea merasa tidak adil dan akhirnya rela menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Varell hanya puas menjadi orang ketiga, Lea akhirnya menyadari satu hal keji dalam kehidupan Varell. Hal apa itu? Kamu pasti tidak bisa membayangkannya. viewsOngoing sayang salah orang Iche Azhahira jangan mengantung kan harapan ketika tidak bisa di lakukan jangan berjanji ketika jadi pengecut yang tidak bisa menepati janji bertahan bukan menetap tapi bertahan pilihan viewsOngoing AKU ANAK ORANG KAYA, MAS! Ana adalah anak dari keluarga Ardi Dinata, seorang pengusaha ternama di kotanya. Namun, ia menyamar jadi anak jalanan untuk mengetahui sikap mertua dan suaminya. viewsCompleted Orang Ketiga Di Pernikahanku Dipaksa menikah dengan CEO tampan dan kaya raya? Tentu saja aku mau! Mana ada terpaksa-terpaksanya. Itu, mah, namanya terpaksa tapi nikmat! Hari ini... aku menikahi cinta pertamaku. Ketika pria itu mengucap ijab kabul, menyematkan cincin di jari manisku, dan mengecup keningku penuh kasih di hari pernikahan kami. Rasanya itu semua seperti mimpi. Aku senang karena akhirnya dia akan menjadi cinta terkahirku juga. Namun, aku terlalu jumawa. Harapanku pupus tatkala mengetahui ternyata jauh sebelum kami menikah, dia sudah mencintai wanita lain selain diriku. "Padahal kukira akulah pemeran utamanya. Ternyata, aku hanyalah orang ketiga dalam hubungan kita." ~Sheril *** Sila follow Instagram penulis Mayangsu_ untuk mengetahui jadwal update novel ini. viewsCompleted Karena Kita Orang Miskin Aisyah Nur Permata Menjadi orang miskin dan tak mampu, bukan keinginan Ratna. Hanya karena ingin memenuhi keinginan anak yang sedang sakit, Ratna rela menebalkan muka meminjam uang. Namun, pada akhirnya hanyalah caci maki yang didapatnya. viewsCompleted Saudara Rasa Orang Lain Akankah HARTA, selamanya menjadi tolok ukur para keluarga, walau saudara sekandung sekalipun. Ketika kita susah, tak ada yang mau mendekat sama sekali, walau saudara kandung sekalipun. Dan ketika kita kaya, maka semuanya akan menganggap kita saudara. viewsCompleted Orang Asing Itu Kekasihku Aku Mia seorang dokter berusia 28 tahun. Aku mendadak dijodohkan dengan kekasih kakak aku sendiri. Kakak aku bernama Aluna dan kekasih dia bernama Andri. Tapi aku menolak perjodohan ini sebab aku tidak mungkin mengambil kekasih kakak aku sendiri. Aku bertemu orang Asing yang mendadak mengaku sebagai kekasih aku di depan keluargaku. Aku bekerja sama dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali dan isa kami juga berbeda jauh. Bahkan aku belum mengetahui nama dia. Apakah keluarga aku bisa percaya dan yakin terhadap hubungan kami berdua? viewsCompleted
Oleh Andi Dwi Handoko Abstract The aims of this research are to describe 1 connection the creation of intrinsic elements in novel Orang-orang Proyek and novel trilogy of Ronggeng Dukuh Paruk; 2 the writer world view in novel Orang-orang Proyek and novel trilogy of Ronggeng Dukuh Paruk; 3 society structure of novel Orang-orang Proyek and novel trilogy of Ronggeng Dukuh Paruk. This research is formed descriptive qualitative use genetic structuralism approach. The method that used is dialectic. Sample in this research was put with purposive sampling technique. Technique of collecting data use document analysis technique and interview. Technique of analysis data is flow model of analysis. Based on the result of this research can concluded 1 finding connection the creation of intrinsic elements in novel Orang-orang Proyek and novel trilogy of Ronggeng Dukuh Paruk; 2 the writer world opinion Ahmad Tohari in novel Orang-orang Proyek dan trilogy of Ronggeng Dukuh Paruk is humanism universal consist of religious opinion, artistry, social, culture, policies, economy, and moral value ; and 3 social structure in novel Orang-orang Proyek and novel trilogy of Ronggeng Dukuh Paruk divided to be two, that is government institution and religion with there homology between text structure and social structure in novel Orang-orang Proyek and novel trilogy of Ronggeng Dukuh Paruk. Key words genetic structuralism, world view, society structure. A. Pendahuluan Perkembangan sastra di Indonesia memperlihatkan angka positif. Sastra banyak diminati orang lantaran sastra bersifat dulce et utile, yakni berkhasiat dan menghibur. Sastra sanggup dijadikan sebagai sarana lisan dan rohani, bahkan sebagai sarana berekonomi. Tidak jarang ada seorang penulis sastra yang menggantungkan penghasilan hidupnya hanya dari menulis karya sastra. Perkembangan sastra memberi sinyal bahwa kehidupan seni bahasa masih mendapat perhatian di masyarakat. Perkembangan sastra ini mengacu pada aspek kuantitas dan kualitas. Salah satu karya sastra yaitu novel. Sebuah novel memperlihatkan suatu citra luas terhadap pembacanya. Ruang luas dalam novel memungkinkan seseorang untuk menggali lebih dalam atas nilai-nilai dan informasi di dalam novel. Pengarang mempunyai pengalaman dan ilmu pengetahuan yang luas sebagai materi untuk mengarang novel. Di tengah gencarnya arus budaya sastra populer, kini masih sanggup ditemukan novel yang memuat kritik sosial. Contoh novel yang sarat dengan nilai kritik sosial yaitu novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Kedua novel ini menceritakan masyarakat kecil yang tertindas oleh kesewenang-wenangan para penguasa. Bahasa yang lugas namun cerdas yang digunakan Ahmad Tohari menciptakan kedua novel tersebut gampang dipahami oleh pembaca awam.. Novel Orang-orang Proyek merepresentasikan lika-liku kehidupan orang-orang proyek pada masa Orde Baru. Novel ini menceritakan seorang insinyur berjulukan Kabul. Kabul diceritakan sebagai tokoh yang harus mempertahankan idealismenya di tengah-tengah masyarakat yang terbawa arus budaya pragmatisme Orde Baru. Praktik kerja pada Orde Baru cenderung membiasakan budaya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme KKN. Kabul mendapat sebuah proyek pembangunan jembatan. Akan tetapi, anggaran dana proyek yang seharusnya untuk membiayai proyek harus dipolitisasi dan dikebiri untuk urusan di luar proyek. Novel ini intinya berisi kritikan terhadap pemerintahan Orde Baru yang selalu membela kepentingan suatu golongan. Novel ini secara tidak pribadi juga mengkritik pemerintahan kini yang masih saja belum bebas dari budaya KKN. Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk memakai latar tahun 1960-an. Latar tersebut memberi citra perihal sejarah komunis dan transisi Orde Lama ke Orde baru. Barangkali Ahmad Tohari ingin memberikan pengalaman pahit rakyat kecil yang tertindas di zaman itu. Di dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari memperlihatkan nilai-nilai perihal kebudayaan dan humanisme dengan lebih intens. Trilogi novel ini yaitu penyatuan tiga novel, yakni Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Trilogi novel ini menceritakan degradasi sosial yang di alami suatu dukuh yang berjulukan Dukuh Paruk dengan sentra pengisahan seorang ronggeng berjulukan Srintil. Srintil harus menjalani aneka macam problematika lantaran statusnya sebagai ronggeng dan tahanan politik. Selain itu, terdapat tokoh Rasus yang diceritakan sebagai anak Dukuh Paruk yang bersifat kritis. Ia meninggalkan Dukuh Paruk untuk mencari jati dirinya. Kekuatan dari kedua novel tersebut yaitu kedekatan dongeng dengan realitas sejarah Indonesia. Penceritaan perihal sisi lain pemerintahan Orde Baru dan peralihan antara Orde Baru dengan Orde Lama merupakan refleksi pengarang sebagai subjek kolektif. Dengan demikian, Ahmad Tohari dikatakan menyerupai menyingkap tabir sejarah dengan caranya sendiri. Hal ini menguatkan bahwa sastra bukanlah karya fiktif tanpa realitas. Karya sastra yaitu rekaman sejarah dan fakta sosial yang dikemas dengan kreativitas pengarang. Oleh lantaran itu, karya sastra tetap mengandung bobot kebenaran yang nyata. Beracuan pada alasan-alasan tersebut, peneliti ingin mengetahui 1 keterjalinan antarunsur intrinsik dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk; 2 pandangan dunia pengarang yang tercermin dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk; dan 3 struktur sosial novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk sesuai dengan pendekatan strukturalisme genetik. B. Pendekatan dan Kajian Teori Bentuk penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan pendekatan strukturalisme genetik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode dialektik lantaran pendekatannya yaitu strukturalisme genetik. Metode yang digunakan dalam strukturalisme genetik yaitu metode dialektik Titik Maslikatin, 200323. Cara kerja metode ini yaitu dengan pemahaman bolak-balik dari struktur karya ke struktur masyarakat atau sebaliknya. Strukturalisme genetik yaitu cabang penelitian sastra secara struktural yang tak murni Suwardi Endraswara, 2003 55. Maksud dari struktural yang tak murni yaitu penelitian ini tetap memakai kajian struktural otonom sebagai dasar kemudian dilanjutkan dengan aspek-aspek di luar karya sastra yang meliputi keadaan sosial yang turut membangun lahirnya karya sastra tersebut. Munculnya strukturalisme genetik merupakan reaksi atas struktural otonom yang hanya memandang otonomi karya sastra dan mengabaikan latar belakang sejarah. Iswanto 2003 59 memberi batasan perihal strukturalisme genetik sebagai sebuah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi dari pendekatan strukturalisme murni yang antihistoris dan kausal. Strukturalisme genetik merupakan suatu disiplin yang menaruh perhatian kepada teks sastra dan latar belakang sosial budaya, serta subjek yang melahirkannya Sangidu, 2004 29. Nyoman Kutha Ratna 2009 123 mendefinisikan bahwa strukturalisme genetik yaitu analisis struktur dengan memberi perhatian terhadap asal-usul karya. Dalam hal ini struktur mengacu pada struktur intrinsik dan ekstrinsik, namun masih ditopang oleh beberapa teori sosial menyerupai konsep homologi, struktur sosial, subjek kolektif, dan pandangan dunia. Strukturalisme genetik merupakan campuran antara strukturalisme dengan Marxisme. Chennells 1993 109 menjelaskan “marxism is a theory of social change which argues that social change is created through the interaction of the material realities of a society...”“marxisme yaitu teori perihal perubahan sosial yang beropini bahwa perubahan sosial diciptakan melalui interaksi dari realitas material kehidupan masyarakat...”. Berangkat dari pengertian ini, strukturalisme genetik mengandung penelaahan-penelaahan karya sastra yang dihubungkan dengan kondisi sosial. Strukturalisme genetik sebagai potongan dari strukturalisme memahami segala sesuatu di dalam dunia ini, termasuk karya sastra sebagai struktur. Oleh lantaran itu, perjuangan strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra terarah pada perjuangan untuk menemukan struktur karya itu. Penjelasan di atas merupakan reduksi beberapa pemikiran dari Abrams, Alam Swingewood, dan Thomas Sebeok dalam Jiwa Atmaja, 2009 115 yang berturut-turut menyebut strukturalisme genetik sebagai kritik historian yang paling menonjol pada jalur Marxisme. Penelitian strukturalisme genetik diawali dari kajian unsur intrinsik kesatuan dan koherensinya sebagai data dasarnya. Selanjutnya penelitian dilakukan dengan menggabungkan aneka macam unsur intrinsik tersebut dengan realitas sosial budaya masyarakatnya. Karya sastra sebagai refleksi zaman sanggup mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi dan budaya. Peristiwa-peristiwa penting pada zamannya akan dihubungkan pribadi dengan unsur-unsur intrinsik karya sastra Suwardi Endraswara, 2003 56. Peletak dasar strukturalisme genetik yaitu Taine. Taine menyatakan bahwa sastra tidak hanya sekadar karya yang bersifat imajinatif dan pribadi, melainkan cerminan atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada dikala karya itu dilahirkan Zainuddin Fananie, 2002 117. Selanjutnya pendekatan strukuralisme genetik dikembangkan oleh Lucien Goldmann. Ia yaitu spesialis sastra Perancis. Pendekatan ini merupakan satu-satunya pendekatan yang bisa merekonstruksi pandangan dunia pengarang. Pendekatan ini tidak menyerupai pendekatan Marxisme yang cenderung positivistik dan mengabaikan kelitereran sebuah karya sastra. Goldmann tetap berpijak pada strukturalisme lantaran ia memakai prinsip struktural yang dinafikan oleh pendekatan marxisme, hanya saja kelemahan pendekatan strukturalisme diperbaiki dengan memasukkan faktor genetik di dalam memahami karya sastra Iswanto, 2003 60. Faruk 1999 12 menyatakan bahwa Goldmann percaya karya sastra merupakan sebuah struktur. Karya sastra tidak berdiri sendiri, melainkan banyak hal yang menyokongnya sehingga menjadi satu bangunan yang otonom. Akan tetapi, Goldmann tidak secara pribadi menghubungkan antara struktur teks dengan struktur sosial yang menghasilkannya, melainkan mengaitkannya terlebih dahulu dengan kelas sosial dominan. Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain, yakni fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan klarifikasi Faruk, 1999 12. Langkah pertama dalam penelitian ini yaitu analisis struktur karya sastra berdasarkan strukturalisme. Nugraheni Eko Wardani 2009 183 menyebutkan bahwa strukturalisme memandang bahwa struktur karya sastra terdiri atas tema, plot, setting, penokohan dan perwatakan, dan sudut pandang. Konsep struktur pada pendekatan strukturalisme genetik berpusat pada korelasi antartokoh yang menekankan tokoh pahlawan sebagai tokoh yang mengalami degradasi. Goldmann dalam Nugraheni Eko Wardani, 2009 55 menyatakan bahwa konsep strukturnya menitikberatkan pada korelasi antartokoh yang bersifat tematis. Langkah selanjutnya yaitu menganalisis pandangan dunia pengarang. Pandangan dunia berdasarkan Goldmann dalam Faruk, 1999 16 yaitu istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompok-kelompok sosial lain. Setelah menganalisis pandangan dunia, penelitian mengarah ke dalam analisis struktur sosial. Dalam hal ini, struktur sosial mengacu pada tataran institusi pemerintahan/politik dan institusi religi yang tercermin dalam novel Orang-orang Proyek OOP dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk RDP. C. Analisis dan Pembahasan Di dalam analisis data ini, peneliti menganalisis novel Orang-orang Proyek dan kaitannya dengan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk memakai pendekatan strukturalisme genetik. 1. Keterjalinan Antarunsur Intrinsik Novel Orang-orang Proyek dan Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk Novel OOP dan RDP memperlihatkan suatu keterjalinan antarunsur intrinsik. Hal ini dibuktikan dengan keterkaitan antara unsur yang satu dengan yang lain. Unsur-unsur itu yaitu tema, penokohan, plot, latar, dan sudut pandang. Tema dalam OOP dan RDP mendukung keseluruhan unsur intrinsik lantaran tema yaitu gagasan dasar yang melatari cerita. Ada lima tingkatan tema berdasarkan Shipley dalam Burhan Nurgiyantoro, 2005 80-81, yakni tema tingkat fisik, organik, sosial, egoik, dan divine. Tema dalam OOP dan RDP yaitu tema sosial jikalau dipandang dengan pembagian terstruktur mengenai tema berdasarkan Shipley. Tema berafiliasi dengan penokohan lantaran tema membentuk karakter-karakter yang dimiliki setiap tokoh. Kabul sebagai sentra pengisahan dalam OOP yaitu tokoh yang memperjuangkan nilai-nilai humanisme/sosial. Kabul diceritakan menentang praktik korupsi, suap, pragmatisme, dan lain-lain yang pada kesudahannya menjadi kasus sosial yang merugikan masyarakat. Karakter Kabul terbentuk dari tema, begitu pula dengan tokoh lainnya. Pada dongeng RDP, ada Srintil dan Rasus. Tokoh-tokoh ini mewakili pemunculan kasus sosial dalam RDP. Srintil diceritakan sebagai ronggeng dan Rasus diceritakan sebagai cowok Dukuh Paruk yang tidak menyetujui praktik-praktik eksploitasi perempuan dalam peronggengan. Perbedaan pandangan antartokoh tersebut menguatkan adanya kasus pandangan sosial. Rasus juga diceritakan sebagai seorang yang menentang pembunuhan dan penahanan orang-orang komunis. Karakter Kabul, Rasus, dan Srintil terbentuk dari tema, begitu pula dengan tokoh lainnya. Tokoh-tokoh yang berada dalam jalinan dongeng OOP dan RDP saling berafiliasi dan saling memunculkan konflik. Konflik-konflik yang terjadi dalam dongeng menciptakan jalinan pada alur. Konflik antartokoh dalam OOP dan RDP menghidupkan alur cerita. Dominasi alur dongeng pada OOP dan RDP yaitu alur lurus. Di beberapa potongan ada yang memakai alur flash-back, namun hal itu hanyalah pembayangan dongeng dari seorang tokoh. Selain itu, unsur-unsur tersebut juga didukung oleh latar. Unsur latar memberi penitikberatan pada penokohan dan mendukung terjadinya jalinan cerita/plot. Latar tempat, waktu, dan sosial memberi ruang penceritaan sehingga tokoh-tokoh sanggup saling berinteraksi. Latar memberi konteks dongeng sehingga mendukung dan menjalin unsur-unsur yang lain. Unsur terakhir yang mendukung yaitu sudut pandang. Sudut pandang dalam OOP dan RDP yaitu omniscient narratif, yakni pengarang serba tahu dan sanggup menceritakan segalanya atau memasuki aneka macam kiprah secara bebas. Sudut pandang memberi bantuan bagi pengarang dalam menjalin semua unsur berdasarkan posisinya sebagai pengarang. Dengan demikian, unsur-unsur intrinsik yang meliputi tema, penokohan, alur, latar, dan sudut pandang dalam OOP mempunyai keterjalinan dan saling mendukung satu dengan yang lain. Keterjalinan antarunsur intrinsik dongeng OOP dan RDP diuji dengan aturan plot. Kenny dalam Nugraheni Eko Wardani, 2009 39 mengungkapkan bahwa aturan plot ada empat, yakni plausibility kebolehjadian, surprise kejutan, suspense ketegangan, dan unity kesatuan. Plausibility kebolehjadian memperlihatkan bahwa dongeng OOP dan RDP mempunyai kemungkinan terjadi di dunia nyata. Setiap potongan dongeng mempunyai kadar plausbility yang berbeda. Ada yang berkemungkinan besar dan berkemungkinan kecil. Cerita dibangun oleh konflik-konflik yang dimunculkan oleh tokoh-tokoh. Konflik ini sering hiperbolis dari kenyataan bantu-membantu sehingga konflik terasa sangat kuat dan tajam. Kekuatan dan ketajaman konflik ini yang menciptakan dongeng memilki plausibility yang tinggi. Surprise kejutan memperlihatkan bahwa dongeng OOP dan RDP mengandung kejutan-kejutan bagi pembaca. Kejutan-kejutan tersebut menciptakan dongeng semakin berdaya tarik tinggi. Kejutan dalam OOP menyerupai dongeng dikala terjadinya iring-iringan kendaraan penerima kampanye GLM melewati jembatan Cibawor yang belum usang selesai dibangun. Banyak yang menduga jembatan tersebut akan amblas lantaran belum sepenuhnya kuat. Akan tetapi, dongeng memperlihatkan bahwa jembatan tersebut kuat dan tidak amblas. Walaupun demikian, pada simpulan cerita, pembaca dikejutkan dengan dongeng bahwa jembatan Cibawor rusak lantaran lantai jembatan amblas. Kejutan dalam RDP menyerupai dongeng malam bukak klambu bagi Srintil. Di dalam dongeng ada dua orang yang bersaing untuk memenangkan malam bukak klambu, yakni Sulam dan Dower. Orang yang berhak atas malam bukak klambu yaitu orang kaya, namun pengarang RDP justru memberi kejutan kepada pembaca. Ternyata yang mendapat malam bukak klambu yaitu Rasus. Surprise lainnya yaitu pada simpulan dongeng Srintil diceritakan menjadi gila lantaran dikhianati oleh Bajus. Padahal dari awal tidak ada indikasi-indikasi Srintil akan menjadi gila. Suspense tegangan memperlihatkan bahwa dongeng OOP dan RDP mempunyai ketegangan dongeng yang memunculkan daya tarik tinggi bagi pembaca. Berbagai konflik yang dimunculkan pengarang menciptakan ketegangan dongeng menjadi kuat. Ketegangan tersebut menyerupai konflik antara Kabul dan Dalkijo. Konflik tersebut memperlihatkan ketegangan yang terjadi antara Kabul dan Dalkijo. Kabul ingin mengundurkan diri dari proyek lantaran mempertahankan idealismenya, sedangkan Dalkijo mengancam Kabul untuk tetap bertahan di proyek. Selain itu, ada juga konflik antara Kabul dan Kang Martasatang yang begitu menegangkan. Konflik yang menandai titik puncak yaitu konflik yang paling kuat, yakni ketika jembatan Cibawor yang belum usang selesai dibangun sudah digunakan untuk dilewati kendaraan-kendaraan berat pada ajang kampanye partai golongan. Keteganganpada RDP menyerupai dongeng dikala Srintil dinobatkan sebagai ronggeng pada upacara di dekat makam Ki Secamenggala. Ketegangan terjadi dikala dukun ronggeng, yakni Kartareja mendadak tidak sadarkan diri. Kartareja diduga dirasuki roh Ki Secamenggala dan memeluk Srintil dengan kuat sehingga Srintil sulit untuk bernapas. Ketegangan tersebut reda sesudah disiram air kembang oleh Nyai Kartareja. Unity kesatuan memperlihatkan bahwa dongeng OOP dan RDP yaitu satu kesatuan utuh dan saling terkait. unsur-unsur dalam dongeng yang meliputi tema, penokohan, alur, latar, dan sudut pandang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan cerita. Novel OOP yang dibagi menjadi lima potongan juga mengindikasikan bahwa lima potongan tersebut semuanya saling terkait dan membentuk satu kesatuan cerita. RDP juga memperlihatkan unity. Trilogi novel yang dibagi menjadi tiga buku juga mengindikasikan bahwa tiga potongan tersebut semuanya saling terkait dan membentuk satu kesatuan cerita. Berdasarkan aturan plot di atas, sanggup dikatakan bahwa OOP dan RDP mempunyai keterjalinan antarunsur intrinsik yang baik. 2. Pandangan Dunia Ahmad Tohari dalam Novel Orang-orang Proyek dan Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk Goldmann dalam Suwardi Endraswara, 2003 57 beropini bahwa karya sastra sebagai struktur bermakna mewakili pandangan dunia pengarang, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakat. Pengarang mempunyai pandangan terhadap masalah-masalah dalam lingkungannya. Pandangan tersebut sekaligus mewakili pandangan orang-orang yang berada dalam tatanan sosial kultural pengarang. Berikut yaitu pandangan dunia Ahmad Tohari dalam OOP dan RDP 1 Pandangan Religius Ahmad Tohari yaitu seorang yang lahir di lingkungan pesantren. Sejak kecil ia telah dekat dengan kegiatan maupun pengetahuan agama. Walaupun demikian, Ahmad Tohari hidup di tengah-tengah masyarakat “abangan”. Orang-orang “abangan” yaitu orang yang berstatus agama Islam, namun masih terseret budaya kejawen. Orang-orang santri di lingkungannya yaitu minoritas. Ahmad Tohari sebagai penganut agama Islam sangat berpikir rasional. Ia tidak percaya adanya mitos-mitos yang mengarah ke animisme maupun dinamisme. Permasalahan mitos dimunculkan Ahmad Tohari RDP. Ketidakpercayaan Ahmad Tohari terhadap mitos dalam RDP disampaikan melalui Rasus. Ada sebuah keganjilan dalam dongeng lantaran Rasus yaitu potongan dari masyarakat Dukuh Paruk yang tak mengenal pendidikan dan agama. Oleh alasannya yaitu itu, seharusnya Rasus mempercayai adanya mitos tersebut. Akan tetapi, Ahmad Tohari menceritakan lain. Rasus dikontradiksikan dengan pandangan masyarakat Dukuh Paruk. Hal itu merupakan siasat Ahmad Tohari untuk menyelipkan pesan kepada pembaca mengenai ketidakpercayaannya terhadap mitos. Di dalam OOP, Ahmad Tohari mengulang soal mitos. Pandangan perihal mitos disampaikan melalui Pak Tarya. Pak Tarya dalam OOP lebih berposisi sebagai pemberi informasi. Pemikiran Pak Tarya pada OOP secara tidak pribadi sama dengan pemikiran Kabul yang tidak mempercayai mitos. Adapun pemikiran Pak Tarya mengenai mitos yaitu sebagai berikut. “Yah, kita telah disadarkan bahwa ternyata kadar animisme di tengah masyarakat kita masih tidak mengecewakan tinggi. Dengarkan Mas kabul, orang sini percaya misalnya, jenazah yang hanyut di sungai bisa mencegah kelongsoran tebing.” OOP 132-133 Di dalam OOP, Ahmad Tohari menuangkan pandangan mengenai agama secara lugas. Di dalam teks OOP, ada semacam riwayat atau dalil yang sengaja dihadirkan Ahmad Tohari. Riwayat tersebut berbunyi “Tidak diutus Kanjeng Nabi, kecuali untuk menyempurnakan adab manusia”. Riwayat inilah yang dijadikan kunci oleh Ahmad Tohari mengenai pandangannya soal agama. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Ahmad Tohari mengaktualisasikan agama bukan hanya sekadar sebagai simbol, namun lebih ke arah aktualisasi nilai agama yang berorentasi menjunjung harkat dan martabat manusia. 2 Pandangan Kesenian Ahmad Tohari memandang kesenian sebagai salah satu potongan dari kehidupan masyarakat. Kesenian merupakan ejawantah sikap insan yang mempunyai rasa, cipta, dan karsa. Ahmad Tohari menolak bentuk-bentuk politisasi kesenian. Pandangan Ahmad Tohari mengenai bentuk politisasi kesenian selalu terepetisi di setiap karyanya. Ada kemiripan penceritaan politisasi kesenian pada RDP dan OOP. Hal ini ditunjukkan dengan dua kutipan dongeng RDP dan OOP berikut. Ternyata lagu-lagu itu semua sudah dihafal oleh dukun ronggeng itu. Hanya di sana-sini ada pergantian kata atau kalimat. Kartareja mencicipi keganjilan lantaran dalam lagu-lagu itu diselipkan kata "rakyat" dan "revolusi", kata-kata mana terasa kurang dekat dalam hatinya. RDP 179 “Ya! Tapi jangan lupa, mintalah orang dinas kebudayaan mengubah pupuh-pupuh atau lirik nyanyian lengger. Sesuaikan kata-katanya dengan semangat Orde Baru. …” OOP 83 Kedua kutipan yang diambil dari teks RDP dan OOP tersebut memperlihatkan adanya suatu kemiripan. Kemiripan tersebut mengacu pada bentuk atau cara yang digunakan tokoh dongeng untuk memolitisasi kesenian ronggeng/lengger. Politisasi dilakukan dengan cara mengganti bait-bait lagu yang akan dinyanyikan peronggeng/pelengger. Bait-bait lagu tersebut diganti dengan kata-kata politis. Kata-kata politis tersebut yaitu bentuk upaya mendukung kelompok-kelompok politik tertentu. 3 Pandangan Sosial Ahmad Tohari yaitu sastrawan yang selalu memandang kasus sosial sebagai sentra inspirasi. Ia intens membahas tema-tema sosial dalam setiap karyanya. Ia tidak menyetujui adanya suatu tindakan yang menjadikan ketimpangan sosial dalam masyarakat. Ia selalu berpihak pada rakyat kecil yang tertindas. Rakyat kecil yaitu sosok yang harus dibela dalam memperjuangkan hak-haknya. Ahmad Tohari menyatakan bahwa ia ingin memperlihatkan bantuan terciptanya masyarakat yang mapan dan sejahtera dengan menggarap tema sosial dalam setiap karyanya. Hal ini ditunjukkan dalam pernyataan Ahmad Tohari berikut. “Dari awal, jadi begini. Hal itu berangkat dari komitmen saya untuk memperlihatkan bantuan bagi terciptanya masyarakat yang bermutu yang tatanan sosialnya itu adil, mapan, dan terciptanya rakyat yang diperhatikan hak-haknya. Komitmen Ahmad Tohari sangat terang dalam memperjuangkan nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Ia menganggap dengan menggarap tema sosial dalam karya-karyanya akan bisa memberi konstribusi pencerahan nilai sosial terhadap masyarakat luas. Pemasungan hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh seseorang tidak dibenarkan dalam berkehidupan masyarakat. Di dalam RDP, nilai sosial digambarkan Ahmad Tohari dalam kutipan berikut. Makin usang tinggal di luar tanah airku yang kecil, saya makin bisa menilai kehidupan di pedukuhan itu secara kritis. Kemelaratan di sana terpelihara secara lestari lantaran kebodohan dan kemalasan penghuninya. Mereka hanya puas menjadi buruh tani. Atau berladang singkong kecil-kecilan. Bila ada sedikit panen, minuman keras memasuki setiap pintu rumah. RDP 86 Masalah sosial diceritakan Ahmad Tohari secara intens dalam OOP. Tema dalam OOP menyoroti perihal kasus sosial yang terjadi pada masa Orde Baru. Ketika sudah bertahun-tahun Indonesia merdeka, namun keadilan dalam masyarakat belum memperlihatkan prestasi yang positif. Di dalam OOP, Ahmad Tohari mendeskripsikan masyarakat kelas bawah. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan dongeng OOP berikut. Mereka, bawah umur proyek itu, yaitu generasi yang malang. Kebanyakan mereka meninggalkan kursi sekolah sebelum waktunya untuk masuk ke pasar tenaga kerja demi perut. Dan di proyek ini mereka digaji terlalu kecil lantaran pos anggaran untuk honor tertekan oleh besarnya faktor X OOP 59. Di dalam kutipan tersebut, Ahmad Tohari memberi pandangan bahwa konsep keadilan belum tercipta dalam masyarakat, terutama di masyarakat tingkat bawah. Kutipan di atas yaitu citra mengenai ketidakadilan dalam bidang pendidikan. Hak-hak pendidikan yang harus diterima oleh seorang anak harus hilang lantaran beban ekonomi. Selain itu, mereka tetap mendapat suatu ketidakadilan soal upah di daerah bekerja. 4 Pandangan Budaya Budaya selalu mengalami pergeseran, entah dalam bentuk fisik maupun fungsi. Inilah yang menjadi sorotan Ahmad Tohari. Ia memandang kultur budaya mengalami pergeseran lantaran sejarah. Sejarah telah menciptakan dominasi atas kepentingan-kepentingan tertentu hingga menciptakan pola pikir suatu masyarakat berubah. Perubahan masyarakat yaitu perubahan sejarah. Kebudayaan sebagai salah satu potongan sejarah tidak tidak mungkin untuk mengalami perubahan. Pandangan Ahmad Tohari mengenai perubahan budaya dalam RDP memperlihatkan adanya deteriorasi sistem tradisi kultural Dukuh Paruk. Deteriorasi ini dipandang dalam perspektif naturalisme Dukuh Paruk dan bukan dalam perspektif modernitas. Akan tetapi, hal ini yaitu kunci untuk membuka sistem sosial di Dukuh Paruk untuk menuju ke arah kebudayaan plural dan terbuka. Hal ini terlihat dalam kutipan bahwa Dukuh Paruk mulai dimasuki kultur luar. Di sana mulai ada pembangunan, alat komunikasi radio, dan orang-orang luar yang dinilai mempunyai wawasan yang lebih maju masuk ke dalam Dukuh Paruk. Egoisme masyarakat Dukuh Paruk yang dulu sangat menjunjung tinggi etika dan tradisi mulai luntur tererosi oleh budaya baru. Ironisme budaya sosial ditunjukkan Ahmad Tohari dalam OOP. Modernisasi dan globalisasi telah mengubah cara pikir dan kultur masyarakat. Masyarakat menuruti arus modernisasi dan globalisasi di segala arah. Mereka lebih banyak tidak memperhatikan kearifan sebagai insan yang telah dianut sebagian besar masyarakat. Tuntutan kemajuan budaya menciptakan masyarakat dituntut untuk mengejarnya dengan segala cara. 5 Pandangan Politik Ahmad Tohari intens menggarap tema-tema politik pada masa Orde Baru. Orde Baru dipandang Ahmad Tohari sebagai pemerintahan tidak demokratif. Orde Baru yaitu orde ketika Soeharto berkuasa. Ahmad Tohari memandang bahwa konsep kekuasaan yang dijalankan Soeharto menggandakan konsep kerajaan Mataram. Jika pada masa kerajaan Mataram ada upeti dari tingkat bawah hingga ke atas, pada masa pemerintahan Orde Baru menerapkan hal yang sama. Oleh lantaran itu, korupsi menjadi budaya ketika Orde Baru berlangsung. Tragedi politik tahun 1965 dan 1966 sangat memengaruhi penciptaan karya-karya Ahmad Tohari, terutama pada trilogi novel RDP. Realitas sejarah pada masa itu telah memberi banyak pandangan bagi Ahmad Tohari. Ahmad Tohari merepresentasikan korban bencana politik masa itu melalui Srintil. Srintil dianggap komunis lantaran ia diajak terlibat dalam rapat-rapat propaganda komunis. Srintil tidak mengetahui perihal komunis, ia hanya tiba rapat lantaran ia disuruh meronggeng. Srintil hanya tahu soal pentas ronggeng dan tidak mengetahui politik. Ia diperalat oleh orang-orang komunis. Srintil dicap komunis dan secara tidak pribadi Dukuh Paruk pun mendapat cap tersebut. Ada kemiripan penceritaan di dalam RDP dan OOP mengenai komunis dan labelisasi tidak higienis lingkungan. Labelisasi tidak higienis lingkungan digunakan untuk mengancam seseorang biar tunduk dalam kekuasaan orang yang mengancam. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan-kutipan berikut. "Kamu orang Dukuh Paruk mesti ingat. Kamu bekas PKI! Bila tidak mau berdasarkan akan saya kembalikan kau ke rumah tahanan. Kamu kira saya tidak bisa melakukannya?" RDP 383 “Baik. Tapi anda akan saya laporkan ke atas. Saya akan cari data jangan-jangan Anda tidak higienis lingkungan. Sebab indikatornya mulai jelas. Masa iya dimintai dukungan untuk pembangunan masjid Anda banyak berkelit. Cukup. Selamat malam. Dan selanjutnya mungkin anda tidak bisa mendapat proyek lagi. Atau Dalkijo akan memecat Anda” OOP 142 Kutipan tersebut memperlihatkan labelisasi tidak higienis lingkungan mempunyai daya kuasa untuk memaksa, menekan, memengaruhi, bahkan menahan seseorang. Hal ini menekankan bahwa pemerintah Orde Baru sangat diktatorial menumpas paham komunis. Komunis dianggap sebagai paham yang harus dibinasakan dari bumi Indonesia. Akan tetapi, kasus perihal labelisasi orang tidak higienis lingkungan mulai pudar sesudah periode reformasi. 6 Pandangan Ekonomi Ahmad Tohari menilai kapitalisme merugikan perekonomian masyarakat menengah ke bawah. Kapitalisme semakin menguat lantaran pemerintah tidak profesional dalam menanganinya. Ahmad Tohari menambahkan bahwa intinya konsep kapitalisme tidak sepenuhnya buruk, namun praktiknya sering merugikan masyarakat kecil. Ahmad Tohari memandang arus modernitas dan globalisasi memacu masyarakat untuk berperilaku konsumtif. Perilaku konsumtif cenderung dilakukan oleh masyarakat menengah ke atas. Masyarakat kecil cenderung meminimalkan konsumsi lantaran keterbatasannya. Perilaku konsumtif juga didukung budaya feodal dan pragmatis sehingga sikap ini lebih mengacu pada kehidupan orang-orang yang dianggap sebagai priayi. Kesenjangan sosial yaitu dampak nyata dari tidak meratanya perekonomian yang dijalankan pemerintah. Kelompok-kelompok bermodal justru mendominasi perekonomian dan semakin menyingkirkan masyarakat kecil. Masyarakat kecil hanya hidup sebagai pekerja kasar, buruh, petani, dan lain-lain yang kehidupan ekonominya tetap stagnan bahkan semakin terpuruk. 7 Pandangan Nilai Moral Pandangan Ahmad Tohari mengenai nilai moral direpresentasikan melalui tokoh-tokoh dalam dongeng RDP dan OOP. Rasus yaitu tokoh dalam dongeng RDP yang diciptakan Ahmad Tohari untuk mewakili konsep idealisme. Rasus diceritakan sebagai seorang yang keras terhadap keyakinan pada dirinya. Idealisme tampak pada Rasus ketika ia tidak oke dengan adanya pelaksanaan tradisi bukak klambu, mitos-mitos yang dipercaya oleh masyarakat Dukuh Paruk, dan ketidakadilan sanksi pada orang-orang yang dianggap komunis sesudah kejadian politik tahun 1965. Selain itu, idealisme Rasus tampak pada kecintaannya terhadap Dukuh Paruk. Ia menginginkan biar Dukuh Paruk mempunyai kehidupan sosial yang lebih baik. Pandangan Ahmad Tohari mengenai idealisme direpresentasikan melalui Kabul dalam dongeng OOP. Kabul yaitu tokoh dongeng OOP yang selalu memegang teguh idealismenya sebagai insinyur. Seseorang yang idealis mengutamakan kejujuran hatinya. Kabul tidak terpengaruh kekuasaan, tekanan-tekanan, pemaksaan, dan lain-lain dalam mempertahankan idealismenya. Deskripsi mengenai pandangan dunia Ahmad Tohari di atas menyimpulkan bahwa Ahmad Tohari mempunyai aneka macam sudut pandang mengenai masalah-masalah dalam OOP dan RDP. Ada keterkaitan mengenai pandangan dunia Ahmad Tohari dalam OOP dan RDP. Tujuh kategori pandangan dunia yang dianalisis dan dibahas pada potongan sebelumnya selalu muncul dalam OOP dan RDP. Pandangan dunia Ahmad Tohari dalam OOP dan RDP jikalau dikerucutkan selalu menyinggung kasus humanisme. Pandangan humanisme Ahmad Tohari bersifat universal. Pandangan tersebut tidak hanya menyentuh satu kasus saja. Akan tetapi, pandangan dunia tersebut menyentuh aneka macam lini kehidupan mulai dari kasus religius, kesenian, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan nilai moral. Hal ini tidak terlepas dari niat Ahmad Tohari untuk memberi bantuan pada masyarakat dalam mewujudkan masyarakat yang tatanan sosialnya baik dan berkualitas. Berdasarkan pembahasan pandangan dunia di atas, disimpulkan bahwa ada keterkaitan pandangan dunia Ahmad Tohari dalam OOP dan RDP. Pandangan dunia tersebut mengerucut pada pandangan humanisme universal. 3. Struktur Sosial Novel Orang-orang Proyek dan Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk Struktur sosial merupakan unsur genetik penciptaan karya sastra Nugraheni Eko Wardani, 2009 56. kondisi sosial terlihat terang pada OOP dan RDP. Analisis struktur sosial OOP dan RDP menekankan pada dua institusi, yakni pemerintahan dan religi. 1 Institusi Pemerintahan Latar dongeng OOP memperlihatkan pada masa Orde Baru, yakni pada tahun 1991. Latar dongeng RDP memperlihatkan peristiwa-peristiwa pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Berdasarkan klarifikasi tersebut, potongan ini disampaikan deskripsi kondisi perpolitikan pada masa Orde Lama dan Orde Baru. a Orde Lama Orde Lama yaitu pemerintahan yang dipimpin oleh Sukarno. Orde Lama tercermin dalam alur dongeng RDP. Gambaran Orde Lama dalam RDP terutama dikala masa simpulan Orde Lama, yakni dikala berlakunya Demokrasi Terpimpin 1959-1966. Hal ini tampak pada pembahasan mengenai unsur latar waktu pada potongan sebelumnya, yakni latar waktu kejadian dongeng RDP banyak terjadi pada tahun 1960 hingga dengan tahun 1965. Pada masa Demokrasi Terpimpin muncul ketegangan antara Partai Komunis Indonesia PKI dan Tentara Nasional Indonesia TNI. Tentara Nasional Indonesia sebagai golongan fungsional harus menghadapi kasus yang rumit lantaran pada satu sisi Tentara Nasional Indonesia harus berpegang teguh pada Pancasila dan Undang-undang Dasar UUD 1945, namun di sisi lain harus menghadapi aneka macam intimidasi dan dominasi PKI Arif Yulianto, 2002 230. Jadi, pada waktu itu ada kekuatan besar yang sedang berseteru di bawah pimpinan Presiden Sukarno. PKI dan Tentara Nasional Indonesia menciptakan aneka macam kebijakan untuk memperlihatkan dominasi mereka di dalam kancah perpolitikan pada masa Demokrasi Terpimpin. PKI menciptakan organisasi-organisasi di beberapa bidang dan Tentara Nasional Indonesia pun menciptakan organisasi-organisasi untuk menandingi PKI. Di dalam bidang budaya, PKI membentuk sebuah forum berjulukan Lembaga Kebudayaan Daerah Lekra. Lekra bekerja di bidang kebudayaan dan kesenian. Lekra bertujuan menghimpun tenaga dan kegiatan para penulis, seniman, dan pelaku kebudayaan lainnya. Lekra berkeyakinan bahwa kebudayaan dan seni tidak bisa dipisahkan dari rakyat. Lekra dibuat sebagai alat propaganda politik PKI. Kesenian dan kebudayaan dalam masyarakat dinilai strategis untuk mengembangkan paham-paham komunis. Berbagai macam seni dijadikan sarana berpolitik sebagai representasi kebudayaan rakyat. Bentuk kesenian tersebut antara lain wayang, sastra, kethoprak, lengger ronggeng, dan lain-lain. Di dalam RDP, disinggung mengenai praktik-praktik yang digencarkan Lekra. Hal tersebut ditunjukkan dalam dongeng RDP ketika Srintil disuruh untuk pentas dalam rapat-rapat propaganda PKI. Cerita tersebut yaitu representasi dari tindakan-tindakan yang dilakukan para pelopor Lekra. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ahmad Tohari berikut. “Mengapa trilogi ini saya tulis dengan mengambil latar kehidupan peronggengan di Dukuh Paruk? Karena ada pengalaman nyata di tahun 1965 semua kelompok ronggeng yang dianggap dari Lekra Lembaga Kesenian Rakyat yang komunis tidak boleh pentas. Dan kebanyakan para seniman ditahan.” Wijang J. Riyanto, dkk., 2006 42 Politisasi kesenian ini representasikan Ahmad Tohari dalam dongeng RDP. Berikut yaitu kutipan dongeng RDP yang mendukung pernyataan tersebut. lagu-lagu itu semua sudah dihafal oleh dukun ronggeng itu. Hanya di sana-sini ada pergantian kata atau kalimat. Kartareja mencicipi keganjilan lantaran dalam lagu-lagu itu diselipkan kata "rakyat" dan "revolusi", kata-kata mana terasa kurang dekat dalam hatinya. RDP 179 Pada tanggal 30 September 1965, ketegangan antara PKI dan Tentara Nasional Indonesia memuncak dan menjadikan malapetaka yang dahsyat bagi masyarakat Indonesia. PKI melaksanakan pemberontakan terhadap pemerintah. Pemberontakan tersebut disebut sebagai Gerakan 30 September 1965 Gestapu. Gerakan tersebut berlanjut pada hari berikutnya, yakni 1 Oktobers 1965 sehingga disebut Gerakan 1 Oktober 1965 Gestok. Gerakan tersebut melaksanakan agresi dengan cara menculik dan membunuh tujuh perwira tinggi TNI. Kemarahan di badan Tentara Nasional Indonesia memuncak akhir kejadian tersebut. Tentara Nasional Indonesia membalasnya dengan menculik dan membinasakan orang-orang komunis. Jadi, orang-orang yang ikut dalam PKI termasuk pelopor Lekra ditahan dan dibunuh. Ada juga yang diasingkan ke sebuah daerah terpencil, menyerupai pulau Buru. Realitas mengenai Gestapu dan Gestok di atas diungkap Ahmad Tohari dalam dongeng RDP. Hal ini ditunjukkan dengan kutipan dongeng RDP berikut. Dua ahad yang jor-joran, sarat dengan pemberontakan budaya. Tayub yang secara resmi tidak boleh pemerintah, pada pasar malam bulan September 1965 itu digalakkan kembali dengan semena-mena…Sampailah hari pertama bulan Oktober. Hari pertama yang disusul hari-hari berikutnya, suatu masa yang tidak bisa dimengerti oleh siapa pun di Dukuh Paruk. Tiba-tiba mereka mencicipi kehidupan menjadi gagudan limbung. RDP 237 Pemberontakan yang disebut sebagai Gestapu dan Gestok kesudahannya sanggup dikendalikan Mayor Jenderal Soeharto yang pada dikala itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat Pangkostrad. Soeharto dinilai sebagai seorang pahlawan yang berjasa dalam penumpasan Gestapu dan Gestok. Keberhasilan Soeharto memimpin Tentara Nasional Indonesia AD dalam menumpas Gestapu dan Gestok kuat terhadap arah peta politik Indonesia. Walaupun demikian, kebijakan Soeharto untuk menumpas orang-orang komunis yaitu suatu hal yang sangat tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Pemberantasan orang-orang yang dianggap komunis diceritakan oleh Ahmad Tohari dalam RDP. Cerita ini yaitu representasi dari tindakan Soeharto pada masa simpulan Orde Lama. Rumah-rumah orang-orang komunis dibakar dan orang-orang yang dianggap komunis diangkut dengan truk dan dibawa ke suatu daerah untuk diasingkan atau dibunuh. Berikut yaitu kutipan dongeng RDP yang sesuai dengan klarifikasi di atas. Tengah malam Februari 1966 di sebuah kota kecil di sudut tenggara Jawa Tengah. Kegelapan yang mencekam telah berlangsung setengah tahun lamanya. Tak ada orang keluar sesudah matahari terbenam kecuali para petugas keamanan tentara, polisi, dan para militer. Tembakan bedil masih terdengar satu-dua di kejauhan. Dan kadang cakrawala malam bernoda merah, ada rumah yang dibakar. ada deru truk berhenti disusul bunyi langkah sepatu yang berat, kemudian berangkat lagi. RDP 247 b Orde Baru Orde Baru menandai berakhirnya pemerintahan Orde Lama. Peristiwa Gestapu dan Gestok telah menciderai pemerintahan Sukarno. Pemerintahan Demokrasi Terpimpin yang dipimpin oleh Presiden Sukarno mengalami kemunduran. Masyarakat dan mahasiswa melaksanakan demonstrasi-demonstrasi mengkritik pemerintah. Pada tanggal 10 Januari 1966 muncul tiga tuntutan dari mahasiswa yang disebut sebagai Tiga Tuntutan Rakyat Tritura. Isi Tritura adalah 1 bubarkan PKI; 2 turunkan harga; dan 3 bubarkan Kabinet Dwikora. Pada tanggal 11 Maret 1966 muncul Supersemar. Presiden Sukarno memberi mandat kepada Soeharto untuk mengambil segala kebijakan yang dianggap perlu untuk menjaga stabilitas keamanan nasional. Surat perintah tersebut dinamakan Surat Perintah Sebelas Maret Supersemar lantaran diberikan pada tanggal 11 Maret. Supersemar mengawali langkah pertama Soeharto untuk naik tahta menjadi presiden. Pada tanggal 27 Maret 1968, Soeharto diangkat menjadi presiden Republik Indonesia secara penuh berdasarkan Ketetapan No. XLIV/MPRS/1968 Arif Yulianto, 2002 247. Pemerintahan Orde Baru tercermin dalam dongeng RDP potongan simpulan dan semua dongeng OOP. Di dalam RDP, yakni pada potongan Jantera Bianglala, diceritakan ada pembangunan susukan irigasi di Dukuh Paruk. Berikut yaitu kutipan dongeng yang memperlihatkan pernyataan tersebut. Bajus dan teman-temannya dikirim pribadi dari Jakarta untuk mengawali pembangunan sebuah bendungan yang akan mengairi dua ribu lima ratus hektar sawah yang sebagian besar terletak di kecamatan Dawuan.RDP308 Hal itu yaitu representasi pemerintahan Orde Baru yang sedang giat-giatnya membangun negeri. Pemerintahan Orde Baru disebut sebagai periode pembangunan sehingga Soeharto dijuluki sebagai “Bapak Pembangunan”. Pada dongeng OOP, representasi Orde Baru lebih menekankan pada alat politik Orde Baru, yakni Golkar. Nama Golkar diubah menjadi Golongan Lestari Menang GLM. GLM diceritakan sebagai partai golongan penguasa yang sangat berkuasa. GLM meliputi aneka macam aspek struktur masyarakat bahkan pegawai negeri dan ABRI. Hal ini ditunjukkan dengan kutipan dongeng OOP berikut. Memang ya. Karena, sistem kekuasaan di bawah Golongan Lestari Menang, GLM, menempatkan jajaran perangkat desa dan kelurahan seluruh Indonesia menjadi onderbouw mereka. Jajaran perangkat desa yaitu satu di antara tiga pilar penopang GLM. Dua pilar lain yaitu birokrasi pegawai negeri dan ABRI. Maka, suka atau tidak, Kades menyerupai Basar sudah tercantum sebagai kader Golongan Lestari Menang. OOP 84 Keberadaan PPP, Golkar, dan PDI direpresentasikan Ahmad Tohari dalam dongeng OOP. Golkar diceritakan sebagai partai golongan yang sangat berkuasa. Deskripsi mengenai partai-partai tersebut dianalogikan oleh Ahmad Tohari dengan sosok wayang, yakni Gatotkaca. Berikut yaitu data kutipan dongeng OOP yang memperlihatkan pernyataan tersebut. “Eh, di masa pembangunan, semua dalang harus kreatif mencipta lakon yang bersemangat Orde Baru. Dan Gatotkaca Kembar Tiga menceritakan ada tiga Gatotkaca. Yang satu ber-kampuh warna hijau, satu lagi ber-kampuh warna merah, dan yang lain ber-kampuh warna lambang GLM. Dan simpulan dongeng membuktikan, sang Gatotkaca yang ber-kampuh warna GLM-lah yang asli. Lainnya palsu dan kerjanya bikin kacau negara.” OOP 82 Orde Baru yaitu suatu orde pemerintahan yang dinilai sarat kegiatan korupsi. Korupsi merajalela di segala aspek dan bidang. Sebenarnya ada upaya dari pemerintah untuk menumpas korupsi, namun upaya tersebut tidak menghasilkan sesuatu yang sanggup dibanggakan. Amin Rahayu 2005 menyatakan bahwa pidato kenegaraan Presiden Soeharto di depan anggota DPR/MPR tanggal 16 Agustus 1967 memberi isyarat bahwa ia bertekad untuk membasmi korupsi di Indonesia hingga ke akar-akarnya. Wujud dari tekad itu yaitu pembentukan Tim Pemberantasan Korupsi TPK yang diketuai Jaksa Agung. Pada tahun 1970 muncul protes dari mahasiswa mengenai kinerja TPK yang dinilai kurang bisa memberantas korupsi. Amin Rahayu lebih lanjut menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan negara menyerupai Bulog, Pertamina, dan Departemen Kehutanan banyak disorot masyarakat lantaran dianggap sarang korupsi. Cerita OOP juga membahas mengenai praktik korupsi di Indonesia. Korupsi yang membudaya pada masa Orde Baru dijadikan salah satu unsur pembangun dongeng oleh Ahmad Tohari dalam OOP. Hal ini ditunjukkan dengan kutipan dongeng OOP berikut. Maka, apakah kata “korupsi” dikenal dalam sistem kekuasaan kerajaan? Tidak. Karena bumi, air, udara, dan kekayaan yang terkandung serta insan yang hidup di atasnya yaitu milik raja dan para pembantunya. “Korupsi” hanya ada pada kamus negara republik. Tapi republik belum pernah tegak di negeri ini. OOP 149 2 Institusi Religi Institusi religi berkaitan dengan kepercayaan supranatural yang diwujudkan dengan praktik-praktik simbolik peribadatan. Indonesia yaitu negara yang ikut mengurusi kehidupan beragama masyarakatnya. Oleh lantaran itu, hak dan kebebasan untuk memeluk agama diatur dalam undang-undang. Setiap orang mempunyai kebebasan dan hak untuk beragama. Di lain sisi, adanya kepercayaan-kepercayaan tertentu juga diakui keberadaannya oleh negara. Di dalam RDP dan OOP, ada dongeng mengenai mitos yang mengacu pada animisme. Animisme yang dianut masyarakat termasuk dalam tataran institusi religi. Selain itu, diungkapkan ajaran-ajaran Islam walau tidak secara eksplisit ditunjukkan dalam teks. RDP dan OOP merepresentasikan masyarakat Jawa. Oleh lantaran itu, ada pengungkapan mengenai religiositas masyarakat Jawa. Animisme dalam dongeng RDP dan OOP ditunjukkan dengan kutipan dongeng berikut. Cerita yang kumaksud yaitu sebagian dongeng yang hanya dimiliki oleh Dukuh Paruk. Konon berdasarkan dongeng tersebut pernah terjadi sepasang insan mati di pekuburan itu dalam keadaan tidak senonoh. Mereka kena kutuk sesudah berjinah di atas makam Ki Secamenggala. Semua orang Dukuh Paruk percaya penuh akan kebenaran dongeng itu. Kecuali saya yang meragukannya dan mencurigainya hanya sebagai salah satu perjuangan melestarikan keangkeran makam moyang orang Dukuh Paruk itu. RDP 68 “Yah, kita telah disadarkan bahwa ternyata kadar animisme di tengah masyarakat kita masih tidak mengecewakan tinggi. Dengarkan Mas kabul, orang sini percaya misalnya, jenazah yang hanyut di sungai bisa mencegah kelongsoran tebing.” OOP 132-133 Mayoritas penduduk Indonesia―khususnya Jawa―memeluk agama Islam. Institusi religi masyarakat Jawa dibagi menjadi dua, yakni santri dan “abangan”. Santri yaitu orang Islam yang taat menjalankan ibadah, sedangkan “abangan” yaitu orang-orang Islam yang masih memegang kuat tradisi kejawen. Santri dan “abangan” berbaur menjadi satu dalam kehidupan masyarakat Jawa. Ahmad Tohari digolongkan dalam masyarakat santri. Lingkungan keluarga Ahmad Tohari yaitu lingkungan santri. Ia sudah dekat dengan lingkungan santri semenjak kecil. Ayah Ahmad Tohari yaitu ketua Nahdatul Ulama NU tingkat kecamatan yang sekaligus bekerja sebagai pegawai Kantor Urusan Agama KUA. Kesantrian keluarga Ahmad Tohari dimulai semenjak generasi ayahnya. Masyarakat “abangan” masih mempercayai adat-adat kejawen yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Mereka beribadah selayaknya orang Islam, namun di sisi lain mereka masih melaksanakan ritual-ritual kejawen. Ritual tersebut menyerupai menyimpan pusaka, mengeramatkan suatu tempat, percaya sesajen, dan lain-lain. Bentuk kebudayaan dan kesenian masyarakat “abangan” menyerupai wayang, lengger ronggeng, kuda lumping, debus, dan lain-lain. Ahmad Tohari hidup di pinggiran Jawa Tengah, tepatnya di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Ahmad Tohari hidup dalam lingkungan keluarga santri, namun masyarakat di sekitar lingkungannya mayoritas yaitu masyarakat “abangan”. Jadi, kaum santri yaitu kaum yang minoritas di desa Ahmad Tohari. Masyarakat “abangan” di desa Ahmad Tohari mayoritas masih buta karakter dan hidup bertani di ladang atau sawah yang kurang subur. Ahmad Tohari tidak selalu hidup di lingkungannya sendiri. Ia ikut berbaur bersama masyarakat “abangan” di desanya sehingga ia mengenal ritual-ritual kejawen, bahkan pertunjukkan ronggeng. Berdasarkan pembahasan mengenai struktur sosial, novel OOP dan RDP mempunyai homologi atau persamaan dengan realitas sosial di masyarakat. Jadi, sanggup disimpulkan bahwa ada homologi antara struktur teks novel dan struktur sosial yang turut mengondisikan jalinan cerita. D. Simpulan dan Saran Ada keterjalinan antarunsur intrinsik dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Pandangan dunia Ahmad Tohari dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yaitu pandangan humanisme universal yang terdiri dari pandangan religius, kesenian, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan nilai moral. Institusi pemerintahan dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk memperlihatkan struktur sosial pada masa transisi Orde Lama dan Orde baru, sedangkan pada novel Orang-orang Proyek memperlihatkan struktur sosial pada pertengahan Orde Baru. Institusi religi memperlihatkan struktur religi masyarakat Jawa dibagi menjadi dua golongan, yakni santri dan “abangan”. Ada kaitan dan homologi antara struktur teks dan struktur sosial dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk. Pembaca sebaiknya mengimplementasikan nilai-nilai positif dalam karya sastra yang telah dibacanya dalam berperilaku di masyarakat. Nilai-nilai positif dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, menyerupai sikap memperjuangkan nilai-nilai humanisme, tidak mempercayai mitos, dan mempertahankan idealisme. Novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yaitu materi bacaan sastra yang berkualitas sehingga masyarakat disarankan untuk membacanya. DAFTAR PUSTAKA Ahmad Tohari. 2007. Orang-orang Proyek. Jakarta Gramedia Pustaka Utama. ________. 2009. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta Gramedia Pustaka Utama. Amin Rahayu. 2005. ”Sejarah Korupsi di Indonesia” dalam Arif Yulianto. 2002. Hubungan Sipil Militer di Indonesia Pasca Orba di Tengah Pusaran Demokrasi. PT. Raja Grafindo Persada Jakarta. Burhan Nurgiyantoro. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta Gajah Mada University Press. Chennells, 1993. “Marxist and Pan-Africanist Literary Theories and a Sociology of Zimbabwean Literature”. Zambezia, XX ii, 128-129. Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik hingga Post-Modernisme. Yogyakarta Pustaka Pelajar. Iswanto. 2003. “Penelitian Sastra dalam Perspektif Strukturalisme Genetik” dalam Metodologi Penelitian Sastra Jabrohim, ed.. Yogyakarta Hanindita Graha Widya. Jiwa Atmaja. 2009. Kritik Sastra Kiri. Bali Udayana Univesity Press. Nugraheni Eko Wardani. 2009. Makna Totalitas dalam Karya Sastra. Surakarta Sebelas Maret University Press. Nyoman Kutha Ratna. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta Pustaka Pelajar. Sangidu. 2004. Penelitian Sastra Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat. Yogyakarta Unit Penerbitan Sastra Asia Barat. Suwardi Endraswara. 2003. Metodologi Penelitian Sastra Epistimologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta FBS UNY. Titik Maslikatin. 2003. “Belenggu Karya Armijn Pane Kajian Strukturalisme Genetik”. Jurnal Argapura. 23, No. 1 1-20. Wijang J. Riyanto, dkk. 2006. Proses Kreatif Ahmad Tohari dalam Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk. Surakarta Taman Budaya Jawa Tengah Zainuddin Fananie. 2002. Telaah Sastra. Surakarta Muhammadiyah University Press.